Sabtu, 28 Juni 2014
ceritaku - Arti Sebuah Kesetiaan
Aku paling suka memilih kata kunci untuk pemulihan pasword untuk email, media sosial dan sejenisnya, pada pilihan
What was the name of your first pet ? Jawabku "mugli". Benar, itu nama binatang peliharaan pertamaku, tepatnya seekor anjing. Mungkin sebelum mugli, burung dara, ada kucing, monyet dan burung enggang yang kami jadikan peliharaan karena ayahku hobi pelihara binatang. Tapi mugli adalah binatang yang benar-benar kupelihara dengan tanganku. Nama Mugli, ku ambil dari sebuah komik, "Mugli, si anak srigala". Suatu hari, saat pulang sekolah --SMP kelas dua-- seekor anak anjing lucu mengikutiku dengan mengibas-ibas ekornya. Hasan, karibku di sekolah, langsung menangkapnya dan mengajakku bergegas naik angkot, "ini anjing bagus, tidak adakah orang melihat saat aku ambil," ujarnya. "Mana aku tahu, yang penting aku tidak terlibat, jika yang punya lapor polisi," ujarku sambil menurunkan nada suara karena diberi signal oleh hasan yang khawatir, sopir angkot mendengar pembicaraan kami. setelah dekat rumahnya, hasan menyerahkan anak anjing itu kepadaku "aku titip, tidak mungkin aku pelihara nanti ami Idrus marah," katanya. "Jelas marah, mana ada Habib pelihara anjing," balasku gusar melihat kelakuan Hasan, ia yang membuat masalah tapi aku diberi tugas. Tanpa tunggu persetujuanku, ia langsung turun angkot. Akhirnya anak anjing berbulu hitam lebat itu aku bawa pulang dan diam-diam membuat kandang hasil modifikasi dari rumahan burung dara yang tak terpakai. Sepandai-pandainya melihara anak anjing pasti menggonggong jua. Ternyata ayahku santai saja. Setelah dilaporkan adikku, "biarin aja, biar dia belajar tanggung jawab merawat peliharaannya". Lain lagi ibuku, dengan berbagai dalih dan ayat ia melarang aku memelihara anjing, namun aku yang sudah jatuh cinta dengan kelucuannya tetap ngotot, akhirnya ibu mengalah dengan berbagai syarat dan syariat, "pokoknya jangan sampai dibawa ke rumah, karna jika ada bulu anjing, malaikat 40 hari tidak mau masuk rumah. Kalau habis pegang, sebelum cuci tangan pakai sabun, basuh dulu dengan tanah, setelah cuci bersih ambil air wudhu...". "Iyaaaaa..." ujarku tanpa sempat mendengar syarat lain yang sepertinya kian mustahil mampu aku lakukan. Setiap hari jika aku di rumah pasti bermain dengan mugli, yang ternyata anjing cerdas, main lempar kayu, suruh duduk dan berbaring sudah bisa ia lakukan. Saat aku kelas tiga SMP, memasuki Ramadhan. Suatu malam, anak-anak sepantaran aku saat melintasi depan rumah menuju masjid untuk tarawih, tak sengaja menginjak ekor Mugli yang berbaring di jalan. Mungkin karena kaget, ia langsung menggeram, serta mengancam dengan taringnya, salah seorang mengambil batu dan menimpuknya. Ternyata itulah awal masalah, Mugli ternyata punya ingatan kuat, sehingga anak yang menimpuknya itu tidak pernah bisa aman dan tentram jika melintasi depan rumah kami karena pasti digonggong dan dikejar. Merasa terus diteror, akhirnya orangtua dia memprotes kepada ibuku. Dua hari setelah itu, usai sekolah aku merasa ada yang janggal, setiap hati biasanya sudah terdengar gongongan mugli dari jauh saat melihat aku, dia pasti menunggu depan pagar rumah kami sambil mengibas-ngibas ekornya. Ternyata mugli telah diberikan, seorang penjual buah dari pedalaman kebetulan mencari anjing untuk menjaga kebunnya dan langsung diberikan ibuku. Protesku sudah tak berguna karena mugli sudah di bawa ke jantung hutan Borneo, nun jauh di sana. Berhari-hari aku seperti orang patah hati, kadang menangis jika tidak ada orang lain. Bayangan mugli yang mengantar dan menjemput depan pagar, saat pergi dan pulang sering terbayang. Ternyata sebuah ketulusan dan kesetiaan sangat berarti meskipun itu hanya oleh seekor anjing. Mengenangnya, nama mugli selalu aku pilih untuk pemulihan email dan media sosial.
Cerpen - bukan cari ocehan
Panas Jakarta memang luar biasa, matahari seperti di ubun-ubun, saat memikirkan nikmat es kelapa muda, ternyata ada warung jus buah di sebuah sudut Kwitang Jakarta, "orang baik, selalu diberi berkah" batinku sambil langsung mencari tempat duduk dekat kipas angin yang tergantung di tengah warung serta pesan es degan. Tak berapa lama masuk dua gadis yang dari penampilannya seperti anak kuliahan, "mending Prabowo, orangnya tegas, biar Malaysia tidak seenaknya, jangan sampe kasus hilangnya Pulau Sipadan terulang lagi," ujar gadis baju merah sambil tampak sibuk on line di gadgetnya. "Klo gua sih Jokowi aja, orangnya sederhana dan merakyat", ujar temannya yang cukup manis namun wajahnya penuh jerawatan. "Lu sih gak mikir, klo diye jadi presiden, anak-anak sekolah gak serius belajar, habis ada foto lucu di gantung depan kelas, klo Prabowo kan duren, siapa tahu ada jodoh," keduanya langsung tertawa, sayapun ikut tersenyum tak sengaja dengar obrolan mereka "Mang, pilih siapa," ujar si baju merah kepada pemilik warung saat mengantarkan minuman jus pesanan mereka, "Neng, hati-hati ngomong, kemarin karena canda seperti itu, kemarin dua pemuda berantem di depan," ujar pemilik . warung. Gara-gara candaan gadis tersebut, pemilik warung pindahkan kursinya mendekatiku, "bapak dari mana? ". "Dari Kalimantan Mang,"."klo di Jakarta, hati-hati ngomong masalah itu, bener kemarin karena omongan, dua pemuda berantem di depan. Heran, dibayar kagak, tapi bela mati". "Mungkin karena, orang-orang atas sono, bukan bersaing program tapi saling fitnah, mencari-cari kesalahan orang lain, rakyatpun ikut-ikutan bodohnya, bela sampe mati, padahal siapapun jadi presidennya, kite gini-gini aje". Entah dengar atau tidak dua gadis tersebut tampak sibuk dengan gadgetnya masing-masing. "Kite merantau ke sini cari makan bukan cari ocehan," lanjut penjaga warung meneruskan petuahnya yang tidak jelas ditujukan untuk siapa. "Sama mang, saya datang ke sini cuma cari es kelapa muda," ujarku yang ternyata terdengar lucu bagi dua gadis tersebut sehingga mereka kembali tertawa, akupun bergegas menyodorkan uang sepuluhuan ribu membayar es degan dan langsung cabut ketimbang mendengar petuah politik sang penjual jus buah...
Cerpen - adikku, si indian
Berita duka tentang meninggalnya adikku Aditya, benar-benar menjadi pukulan berat dan aku tidak ingin kehilangan momen untuk mengantarkan ke tempat peristirahatan terakhir. Tak perduli jika ada tugas terakhir beberapa hari ini maka gelar doktoral dari Monash University, Melbourne akan aku genggam. Untunglah, Pak Bas --salah seorang dosen di sana yang telah menjadi permanent residen-- berjanji membantuku jika kembali ke Ausie. Perjalanan panjang hampir enam jam, sidney-melbourne-jakarta terasa kian lama, ya itulah beda perjalanan wisata dan perjalanan karena duka. Sepanjang jalan, meskipun aku berusaha menutup mata dan telah menghabiskan tiga sloki double wiskey cola yang ku minta dari pramugari namun tak juga bisa tidur. Malah di benakku seperti sedang diputar ulang film masa kecil. Kami terlahir dari keluarga berada, aku adalah anak ke empat dari lima bersaudara, dan Aditya adalah anak bungsu. Biasanya, anak bontot adalah anak paling dimanja dan disayang namun tidak dengan Aditya, malah sepertinya, ia anak paling tidak disukai oleh ayah, ibu dan kakak-kakak kami, kecuali aku. Apalagi tetangga dan anak-anak seusia kami. Maklum saja adikku ini, terlahir cacat, kakinya timpang dan bisu. Mungkin karena usia kami beda satu tahun maka hubungan kami dekat, bahkan sering aku berkelahi karena mereka mengejek adikku. Herannya orangtua dan tiga kakak kami tidak mempersoalkan aku yang sering berantem tapi mempersalahkan Aditya. Suatu malam, aku terbangun mendengar ayah dan ibu bertengkar. Tanpa sadar ibu mengungkit jika ia sejak awal tak menghendaki kehadirannya. Saat hamil muda, ibu yang ingin kembali berakvitas dipekerjaannya makan obat perontok namun gagal sehingga hal itu yang menyebabkan ia melahirkan anak tak normal. Aku meringkuk di pinggir ranjang selain takut orangtuaku tahu aku menguping, juga baru paham jika mereka menganggap Aditya anak sial. Sejak saat itu, aku kian menyayangi dan melindunginya karena merasa orang sedunia membenci adikku.sama seperti anak-anak normal, maka aku dan Aditya juga suka bermain, permainan favorit kami adalah memerankan jagoan The Lone Ranger, aku jadi pahlawan bertopeng dan Aditya jadi Tonton, si Indian karibnya. Lamunanku perlahan pudar bersamaan suara pramugari yang mengingatkan jika pesawat segera mendarat. Di rumah duka tampak sejumlah kerabat, teman bisnis orangtuaku, dan tiga saudaraku bersama istri dan suami mereka. Aku tidak tapi perduli dengan sikap palsu mereka yang masih bersandiwara itu. Di ruang tengah terbujur kaku, saudara paling aku kasihani. Lama aku terduduk. Aku tidak menangis, karena air mataku sudah kering, menangis selama di pesawat. Selain itu, perasaan sedih berkurang saat menatap wajahnya, karena tampak tersenyum tenang dalam tidur panjangnya, tak ada lagi tatapan sendu dan ketakutan. Seperti saat melihat bunda murka jika ia dianggap berbuat salah. Perlahan aku meninggalkan jasadnya dan mengurung diri di kamar Aditya, tak sengaja aku melihat dompet tua berwarna coklat yang sepertinya aku kenal di laji meja. Ya, dompet ini hadiah dariku pada ulang tahunnya. Saat ku buka, tak ada isinya, selain sebuah foto masa kecil, aku dan Aditya yang berpakaian ala pahlawan bertopeng the lone ranger dan sahabatnya, tonto si indian. Baru aku perhatikan raut wajah Aditya dalam foto itu sama seperti wajahnya saat meninggal, mungkinkah hanya dua momen ini yang paling membahagiakannya. Selamat jalan adikku, selamat istirahat panjang sahabat indian ku, ya Allah berilah tempat yang layak di sisi-Mu, amin.
(suatu malam juni 2014, kadrie oening samarinda)
cerpen - when money talks
"Siang bang," ujar sopir Bluebird begitu aku menutup pintu mobil dan duduk di jok belakang. "Cempaka mas pak" ujarku. Mobil taksi berwarna biru teduh itupun melaju namun saat melintasi Jl Sudirman, Jakarta menampakkan wajah aslinya yang garang--kemacetan jadi ritual rutin-- memecah kebisuan aku bertanya sekenanya "nama bapak Armada ya". "Ah abang canda aja, armada..sekian..sekian mah No taksi, nama saya Anto pak" ujar sopir tersenyum sambil melihat aku melalui kaca spion tengah. "Sory pak, aku pikir nama bapak Armada..sekian.Sekian.."ujarku balas tersenyum yang awalnya tak bermaksud bercanda namun akhirnya pura-pura bercanda untuk menutup malu karena salah baca id card sopir.
Mungkin karena dianggap aku suka canda akhirnya sang sopir berkicau tentang berbagai hal, termasuk mengomentari beberapa penjual buku tentang Prabowo dan Jokowi yang menjajakannya di sekitar traffictlight kepada pengendara atau penumpang seperti diriku. "Semua dijual di Jakarta yang penting jadi duit, jual diri, jual anak," katanya. "Cuma satu yang tidak dijual pak?" ujarku dengan kalimat gantung,"Apa bang?", "Ayah dan ibu", "ha ha ha...kalau itu dijual bakalan kualat..".
"mohon maaf bang, ke jakarta bisnis atau libur". "Dua-duanya pak, libur sekalian kerja, kerja sekalian libur", terpancing dengan sikap sopir banyak bicara, akhirnya aku seperti curhat, menuturkan tentang kondisiku yang dalam pekerjaan sudah sampai titik jenuh, sebagai seorang manajer di perusahaan pengadaan alat konstruksi hampir semua daerah sudah aku singgahi, gaji dan tunjangan sangat memuaskan tapi posisi ini hampir 20 tahun aku jalani, kemampuan lobi serta keluwesanku mendekati bos besar yang juga pemilik perusahaan menyebabkan, posisiku seperti tak tergantikan saking percayanya kepada diriku.
Meski aku sering mengeluh sendiri karena banyak pekerjaan bukan di bidangku namun jadi tugasku karena perintah langsung dari the big bos. Hal lain yang kian membuatku ingin berhenti adalah prilaku bos besar, yakni sangat kasar jika ada masalah, kata-katanya melukai harga diri anak buahnya termasuk aku,"Mau wiraswasta, belum berani, mau pindah perusahaan, takut kesejahteraan tidak sama, kalau menurut bapak bagaimana?
Lama terdiam, sopir itu menilai sebaiknya, aku tetap bekerja "sudahlah bang, lupakan masalah moral, yang penting, pendapatan abang sangat memuaskan.secape capeknya orang kerja akan enak jika uang banyak, tapi seenak-enaknya orang nganggur, cuma makan tidur tapi sangat sakit jika tidak punya uang, jika tidak punya uang, kita tak ada harganya, teman jadi musuh, kerabat menjauh, saudarapun jadi orang lain".
Tak terasa, kami sudah memasuki parkir Mal Cempaka Emas, aku segera mencabut dua lembar uang seratus ribuan dan segera melangkah,"bang, kebanyakan nih, cuma rp80 rebu". Aku tersenyum dan melambaikan tangan tanda aku ikhlas memberinya lebih.
cerpen - Sahabat Nakalku
20 tahun merupakan waktu cukup lama, waktu yang bisa membuat orang menjadi matang dan bijaksana. 20 tahun juga merupakan masa cukup lama dan bermakna sebuah nostalgia mendalam jika mengenang kejadian dua dasawarsa silam.
Hal itulah yang ku alami saat bertemu secara tidak sengaja teman sekolah --sepermainan masa kecil-- saat mudik ke kampung halaman.
Hampir 20 tahun tidak bertemu, aku nyaris tidak mengenalnya, semua tampak berubah, dari penampilan dan pengakuannya, aku percaya jika kini ia menjadi pengusaha kontraktor sukses. Bahkan, ia mengaku lolos meraih kursi pada Pileg lalu.
Bergeser ke cerita masa lalu, tawanya berderai, saat mengenang kenakalan kami saat menangkap dan memanggang ayam tetangga sial yang masuk ke pekarangan rumahnya.
Setelah puas tertawa-tawa saat mengenang kebegalan kami waktu kecil, akhirnya, aku mengeluarkan"pertanyaan wajib orang Melayu" jika bertemu sahabat lama yakni tentang berapa putranya? Wajahnya langsung berubah seperti ada mendung berkabut untuk menyembunyikan kehampaan.
Akupun seperti menyalahkan diriku atas kelancangan menghentikan keceriaannya mengenang masa kecil kami. "Anakku satu-satunya meninggal is akibat kecelakaan lalu lintas, ibunya selamat meski sekarang lumpuh, menurut dokter tak mungkin bisa normal lagi, dan aku tak mungkin meninggalkannya meski mertuaku telah mengizinkan aku kawin lagi".
Usai menuturkan insiden maut itu, tiba-tiba Hp-nya berdering dan ia berpamitan dengan alasan ada janji dengan rekan bisnis. Tinggal aku sendiri duduk termenung dengan berbagai perasaan menembus bilik empatiku.
Ternyata, keutuhan keluarga adalah harta sangat tak ternilai, dan kesehatan kita sekeluarga itu sebuah rezeki yang sangat berharga namun kadang-kadang lupa kita syukuri. Hikmah lain, mungkin itulah alasan orang bule, tabu menanyakan masalah usia, agama dan keluarga, entahlah. (cerpen untuk sahabat).
Kamis, 05 Juni 2014
Menatap Masa Depan Gajah Kerdil Borneo
SAAT
melihat kawanan gajah di televisi, maka umumnya orang membayangkan habitatnya di Pulau Sumatera, Thailand, India atau negara-negara di Afrika. Padahal ada satu kawasan yang ternyata menjadi habitat kawanan gajah tersebut, yakni di utara Kalimantan.
Bagi warga utara Kalimantan, khususnya yang berusia lanjut, keberadaan populasi gajah di kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia bukan hal yang aneh.
Gajah Borneo kerdil (Elephas maximus borneensis) itu, konon, terakhir terlihat sekitar awal 1960-an, saat seorang prajurit RI (KKO Mariner) yang bertugas di perbatasan saat terjadi konfrontasi Indonesia dengan Malaysia (1963-1966) menembak mati seekor gajah yang mengamuk di sebuah perkampungan di wilayah Sebuku (Nunukan).
Namun, seiring perjalanan waktu disertai kian gencarnya aktivitas perhutanan dan perkebunan, satwa langka itu sempat dianggap punah karena tidak satupun warga di perbatasan yang melihat keberadaannya.
Kemudian, pada 1990-an, pihak Kanwil Kehutanan Kalimantan Timur mendapat laporan baik dari warga perbatasan maupun petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) setempat bahwa diperkirakan masih ada kawanan gajah di wilayah utara Kalimantan itu berdasarkan jejak kaki dan kotorannya.
Berdasarkan laporan itu, maka sejumlah peneliti dan penggiat lingkungan hidup baik dari lembaga pendidikan serta organisasi lingkungan hidup, misalnya WWF¿s (World Wide Fund for Nature) kian intensif melakukan pemantauan dan penelitian di perbatasan.
Apalagi di kawasan perbatasan itu terbentang salah satu kawasan konservasi terbesar di dunia, yakni Taman Nasional Kayan Mentarang (1.360.500 hektar).
Taman Nasional Kayan Mentarang menjadi sangat penting karena merupakan suatu kesatuan kawasan hutan primer dan hutan sekunder tua yang terbesar dan masih tersisa di Kalimantan dan seluruh Asia Tenggara.
Penampakan gajah tersebut selain menjadi berita menggembirakan khususnya terkait upaya pelestariannya namun di sisi lain juga cukup mengkhawatirkan karena intensifnya interaksi antara manusia dengan satwa-satwa langka yang mendekati pemukiman itu atau sebuah indikaso bahwa kondisi hutan yang menjadi habitatnya kian rusak.
Wilayah perbatasan dalam beberapa dakade terakhir, menjadi salah satu kawasan paling rawan terjadi berbagai kasus kejahatan, bukan hanya pada kegiatan "illegal logging", penyelundupan dan pencurian ikan namun peredaran senjata api dan Narkoba, termasuk ancaman bagi teritorial RI.
Silih berganti pemerintahan serta berbagai upaya telah dilakukan dalam menekan berbagai tindak kejahatan di kawasan perbatasan namun tampaknya berbagai program dan strategi tersebut belum mampu mengatasi berbagai kerawanan kawasan perbatasan.
Alasan klasiknya, yakni pengamanan terbentur dengan wilayah Kalimantan Timur yang terlalu luas (1,5 kali Pulau Jawa dan Pulau Madura) yang dibarengi dengan kelemahan berbagai prasarana dan sarana perhubungan dan telekomunikasi.
Akhirnya, secercah harapan menyinari kawasan perbatasan, saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 16 November 2012 telah menandatangani UU No. 20 Tahun 2012 tentang Pembentukan Provinsi Kalimantan Utara (sebelumnya masuk dalam wilayah administratif Kalimantan Timur). Sebelum disahkan Presiden, RUU pembentukan Provinsi Kalimantan Utara telah disetujui oleh Rapat Paripurna DPR pada 25 Oktober 2012 untuk disahkan menjadi Undang-Undang (UU).
Pertanyaannya, benarkan melalui sebuah otonomi daerah--lahirnya Provinsi Kalimantan Utara-- pengelolaan lingkungan hidup akan bisa lebih baik sehingga memberi asa terhadap kelestarian Gajah Borneo.
Optimistis
"Sekarang ini memang belum terasa dampaknya karena Provinsi Kaltara meskipun sudah disahkan akan tetapi belum efektif dalam menjalankan sebuah pemerintahan karena belum memiliki kepala daerah (gubernur) dan dewan yang definitif," kata pengamat perbatasan di Kalimantan Timur, Prof Sarosa Hamongpranoto, SH, M.Hum.
Kalimantan Utara yang merupakan anak bungsu Ibu Pertiwi atau provinsi ke-34 saat ini masih dipimpin oleh Pj (pejabat gubernur) yang saat ini diamanahkan kepada Irianto Lambrie, dan baru melaksanakan Pemilu kepala daerah pada awal 2015.
Sarosa menilai bahwa jika pemerintahan daerah sudah berjalan efektif serta berbagai lembaga/organisasi/instansi setingkat provinsi sudah terbentuk maka ia optimistis pengawasan dan pengamanan wilayah perbatasan di Kalimantan Utara akan berjalan baik.
Selama ini, ujarnya, hambatan mengamankan wilayah perbatasan karena terbentur luas wilayah dibarengi dengan berbagai keterbatasan prasarana dan sarana perhubungan dan komunikasi namun dengan adanya pemekaran wilayah maka persoalan itu bisa diatasi, mengingat otonomi daerah hakikatnya mendekatkan pelayanan birokrasi dan pembangunan.
Hal terpenting lainnya, ujar Sarosa adalah Pemerintah Pusat atau Pemprov Kalimantan Utara bekerja sama dengan Pemkab Malinau dan Pemkab Nunukan (dua daerah yang berbatasan darat dan laut dengan Malaysia Timur, Sabah dan Serawak) mampu membuah sebuah rencana besar dalam mengamankan potensi alamnya baik dari berbagai tindak kejahatan yang merusak lingkungan, maupun ancaman yang bisa merugikan Indonesia terkait batas wilayah/teritorial.
Pengalaman selama ini, jika terjadi persoalan di wilayah perbatasan adalah saling tuding dan lempar tanggung jawab antara perintah pusat dan daerah.
Ia juga berharap agar kelestarian sejumlah konservasi alam di kawasan perbatasan fungsinya terus dipelihara, misalnya Taman Nasional Kayan Mentarang, dan sejumlah hutan lindung di Malinau dan Nunukan, termasuk Hutan Lindung Sembakung dengan benar-benar menerapkan pembangunan berwawasan lingkungan.
Belajar dari kesalahan Provinsi Kalimantan Timur, tampaknya pemerintah daerah di Kalimantan Utara nantinya jika akan memberikan ijin lokasi maka benar-benar pada lahan-lahan kritis bukan kawasan "berhutan".
Tidak kalah pentingnya, Sarosa menilai bahwa penyelamatan lingkungan tampaknya akan bisa berhasil jika ada komitmen terus menerus dari para pemangku kebijakan dengan dikawal oleh semua pihak, termasuk media massa.
Satwa Endemik
Upaya penyelamatan lingkungan di Kalimantan Utara tampaknya kian strategis karena tuntasnya perdebatan mengenai asal usul Gajah Borneo yang ditemukan mengembara di rimba wilayah Sabah, Serawak dan Kalimantan Utara itu.
Puluhan tahun, keberadaan gajah pemalu dan berukuran kecil tersebut diperdebatkan, ada yang mengatakan bahwa satwa langka itu adalah keturunan gajah milik Sultan Sulu.
Konon, British East India Trading Company (Kongsi perdagangan Inggris di Hindia Timur) menghadiahi gajah-gajah itu kepada Sultan Sulu pada 1750. Gajah itu kemudian dilepaskan ke belantara sehingga menjadi liar.
Ada pula yang menganggap bahwa gajah itu dibawa dari Thailand oleh juragan kayu, guna menarik kayu-kayu gelondongan pada awal era industri perkayuan di Kalimantan.
Pendapat lain adalah menyakini bahwa gajah tersebut adalah endemik Kalimantan.
Berbagai spekulasi tersebut akhirnya berakhir, saat WWF¿s (World Wide Fund for Nature) Asian Rhino and Elephant Action Plan Strategy serta peneliti dari Universitas Columbia belum lama ini melalui tes DNA Mitokondria membuktikan bahwa gajah pemalu, berukuran kecil serta berbulu lebih panjang ketimbang saudaranya di Sumatera, India, Thailand dan Afrika itu ternyata satwa asli Borneo.
Bahkan, peneliti Universitas Mulawarman yang menguji DNA Gajah Borneo di balai Riset USA mendapatkan bentuk dan sifat genetik berbeda dari gajah Asia dan Afrika sehingga satwa langka ini sudah mengembara di rimba Borneo pada 30.000 tahun lalu.
Survei WWF Wilayah Kaltim 2007 memperkirakan populasi Gajah Kalimantan antara 30 sampai 80 ekor di utara Kalimantan.
Masa depan kelestarian gajah mini tersebut tampaknya kini berada di pundak Pemprov (definitif) Kalimantan Utara serta Pemkab Malinau dan Pemkab Nunukan dalam menjaga kelestarian alam, dari hutan hujan tropis dataran tinggi di Taman Nasional Kayan Mentarang sampai "tropical rainforest" dataran rendah di hutan lindung Sembakung.
Keberhasilan menyelamatkan Gajah Mini Borneo yang merupakan subspesies dari gajah Asia dan hanya dapat ditemui di Kalimantan Utara itu bukan tidak mungkin menjadi "percontohan", mengingat WWF belum lama ini menemukan jejak badak sumatera di Kutai Barat, Kaltim, padahal satwa langka itu sudah puluhan tahun dianggap punah dari Bumi Kalimantan.
melihat kawanan gajah di televisi, maka umumnya orang membayangkan habitatnya di Pulau Sumatera, Thailand, India atau negara-negara di Afrika. Padahal ada satu kawasan yang ternyata menjadi habitat kawanan gajah tersebut, yakni di utara Kalimantan.
Bagi warga utara Kalimantan, khususnya yang berusia lanjut, keberadaan populasi gajah di kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia bukan hal yang aneh.
Gajah Borneo kerdil (Elephas maximus borneensis) itu, konon, terakhir terlihat sekitar awal 1960-an, saat seorang prajurit RI (KKO Mariner) yang bertugas di perbatasan saat terjadi konfrontasi Indonesia dengan Malaysia (1963-1966) menembak mati seekor gajah yang mengamuk di sebuah perkampungan di wilayah Sebuku (Nunukan).
Namun, seiring perjalanan waktu disertai kian gencarnya aktivitas perhutanan dan perkebunan, satwa langka itu sempat dianggap punah karena tidak satupun warga di perbatasan yang melihat keberadaannya.
Kemudian, pada 1990-an, pihak Kanwil Kehutanan Kalimantan Timur mendapat laporan baik dari warga perbatasan maupun petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) setempat bahwa diperkirakan masih ada kawanan gajah di wilayah utara Kalimantan itu berdasarkan jejak kaki dan kotorannya.
Berdasarkan laporan itu, maka sejumlah peneliti dan penggiat lingkungan hidup baik dari lembaga pendidikan serta organisasi lingkungan hidup, misalnya WWF¿s (World Wide Fund for Nature) kian intensif melakukan pemantauan dan penelitian di perbatasan.
Apalagi di kawasan perbatasan itu terbentang salah satu kawasan konservasi terbesar di dunia, yakni Taman Nasional Kayan Mentarang (1.360.500 hektar).
Taman Nasional Kayan Mentarang menjadi sangat penting karena merupakan suatu kesatuan kawasan hutan primer dan hutan sekunder tua yang terbesar dan masih tersisa di Kalimantan dan seluruh Asia Tenggara.
Penampakan gajah tersebut selain menjadi berita menggembirakan khususnya terkait upaya pelestariannya namun di sisi lain juga cukup mengkhawatirkan karena intensifnya interaksi antara manusia dengan satwa-satwa langka yang mendekati pemukiman itu atau sebuah indikaso bahwa kondisi hutan yang menjadi habitatnya kian rusak.
Wilayah perbatasan dalam beberapa dakade terakhir, menjadi salah satu kawasan paling rawan terjadi berbagai kasus kejahatan, bukan hanya pada kegiatan "illegal logging", penyelundupan dan pencurian ikan namun peredaran senjata api dan Narkoba, termasuk ancaman bagi teritorial RI.
Silih berganti pemerintahan serta berbagai upaya telah dilakukan dalam menekan berbagai tindak kejahatan di kawasan perbatasan namun tampaknya berbagai program dan strategi tersebut belum mampu mengatasi berbagai kerawanan kawasan perbatasan.
Alasan klasiknya, yakni pengamanan terbentur dengan wilayah Kalimantan Timur yang terlalu luas (1,5 kali Pulau Jawa dan Pulau Madura) yang dibarengi dengan kelemahan berbagai prasarana dan sarana perhubungan dan telekomunikasi.
Akhirnya, secercah harapan menyinari kawasan perbatasan, saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 16 November 2012 telah menandatangani UU No. 20 Tahun 2012 tentang Pembentukan Provinsi Kalimantan Utara (sebelumnya masuk dalam wilayah administratif Kalimantan Timur). Sebelum disahkan Presiden, RUU pembentukan Provinsi Kalimantan Utara telah disetujui oleh Rapat Paripurna DPR pada 25 Oktober 2012 untuk disahkan menjadi Undang-Undang (UU).
Pertanyaannya, benarkan melalui sebuah otonomi daerah--lahirnya Provinsi Kalimantan Utara-- pengelolaan lingkungan hidup akan bisa lebih baik sehingga memberi asa terhadap kelestarian Gajah Borneo.
Optimistis
"Sekarang ini memang belum terasa dampaknya karena Provinsi Kaltara meskipun sudah disahkan akan tetapi belum efektif dalam menjalankan sebuah pemerintahan karena belum memiliki kepala daerah (gubernur) dan dewan yang definitif," kata pengamat perbatasan di Kalimantan Timur, Prof Sarosa Hamongpranoto, SH, M.Hum.
Kalimantan Utara yang merupakan anak bungsu Ibu Pertiwi atau provinsi ke-34 saat ini masih dipimpin oleh Pj (pejabat gubernur) yang saat ini diamanahkan kepada Irianto Lambrie, dan baru melaksanakan Pemilu kepala daerah pada awal 2015.
Sarosa menilai bahwa jika pemerintahan daerah sudah berjalan efektif serta berbagai lembaga/organisasi/instansi setingkat provinsi sudah terbentuk maka ia optimistis pengawasan dan pengamanan wilayah perbatasan di Kalimantan Utara akan berjalan baik.
Selama ini, ujarnya, hambatan mengamankan wilayah perbatasan karena terbentur luas wilayah dibarengi dengan berbagai keterbatasan prasarana dan sarana perhubungan dan komunikasi namun dengan adanya pemekaran wilayah maka persoalan itu bisa diatasi, mengingat otonomi daerah hakikatnya mendekatkan pelayanan birokrasi dan pembangunan.
Hal terpenting lainnya, ujar Sarosa adalah Pemerintah Pusat atau Pemprov Kalimantan Utara bekerja sama dengan Pemkab Malinau dan Pemkab Nunukan (dua daerah yang berbatasan darat dan laut dengan Malaysia Timur, Sabah dan Serawak) mampu membuah sebuah rencana besar dalam mengamankan potensi alamnya baik dari berbagai tindak kejahatan yang merusak lingkungan, maupun ancaman yang bisa merugikan Indonesia terkait batas wilayah/teritorial.
Pengalaman selama ini, jika terjadi persoalan di wilayah perbatasan adalah saling tuding dan lempar tanggung jawab antara perintah pusat dan daerah.
Ia juga berharap agar kelestarian sejumlah konservasi alam di kawasan perbatasan fungsinya terus dipelihara, misalnya Taman Nasional Kayan Mentarang, dan sejumlah hutan lindung di Malinau dan Nunukan, termasuk Hutan Lindung Sembakung dengan benar-benar menerapkan pembangunan berwawasan lingkungan.
Belajar dari kesalahan Provinsi Kalimantan Timur, tampaknya pemerintah daerah di Kalimantan Utara nantinya jika akan memberikan ijin lokasi maka benar-benar pada lahan-lahan kritis bukan kawasan "berhutan".
Tidak kalah pentingnya, Sarosa menilai bahwa penyelamatan lingkungan tampaknya akan bisa berhasil jika ada komitmen terus menerus dari para pemangku kebijakan dengan dikawal oleh semua pihak, termasuk media massa.
Satwa Endemik
Upaya penyelamatan lingkungan di Kalimantan Utara tampaknya kian strategis karena tuntasnya perdebatan mengenai asal usul Gajah Borneo yang ditemukan mengembara di rimba wilayah Sabah, Serawak dan Kalimantan Utara itu.
Puluhan tahun, keberadaan gajah pemalu dan berukuran kecil tersebut diperdebatkan, ada yang mengatakan bahwa satwa langka itu adalah keturunan gajah milik Sultan Sulu.
Konon, British East India Trading Company (Kongsi perdagangan Inggris di Hindia Timur) menghadiahi gajah-gajah itu kepada Sultan Sulu pada 1750. Gajah itu kemudian dilepaskan ke belantara sehingga menjadi liar.
Ada pula yang menganggap bahwa gajah itu dibawa dari Thailand oleh juragan kayu, guna menarik kayu-kayu gelondongan pada awal era industri perkayuan di Kalimantan.
Pendapat lain adalah menyakini bahwa gajah tersebut adalah endemik Kalimantan.
Berbagai spekulasi tersebut akhirnya berakhir, saat WWF¿s (World Wide Fund for Nature) Asian Rhino and Elephant Action Plan Strategy serta peneliti dari Universitas Columbia belum lama ini melalui tes DNA Mitokondria membuktikan bahwa gajah pemalu, berukuran kecil serta berbulu lebih panjang ketimbang saudaranya di Sumatera, India, Thailand dan Afrika itu ternyata satwa asli Borneo.
Bahkan, peneliti Universitas Mulawarman yang menguji DNA Gajah Borneo di balai Riset USA mendapatkan bentuk dan sifat genetik berbeda dari gajah Asia dan Afrika sehingga satwa langka ini sudah mengembara di rimba Borneo pada 30.000 tahun lalu.
Survei WWF Wilayah Kaltim 2007 memperkirakan populasi Gajah Kalimantan antara 30 sampai 80 ekor di utara Kalimantan.
Masa depan kelestarian gajah mini tersebut tampaknya kini berada di pundak Pemprov (definitif) Kalimantan Utara serta Pemkab Malinau dan Pemkab Nunukan dalam menjaga kelestarian alam, dari hutan hujan tropis dataran tinggi di Taman Nasional Kayan Mentarang sampai "tropical rainforest" dataran rendah di hutan lindung Sembakung.
Keberhasilan menyelamatkan Gajah Mini Borneo yang merupakan subspesies dari gajah Asia dan hanya dapat ditemui di Kalimantan Utara itu bukan tidak mungkin menjadi "percontohan", mengingat WWF belum lama ini menemukan jejak badak sumatera di Kutai Barat, Kaltim, padahal satwa langka itu sudah puluhan tahun dianggap punah dari Bumi Kalimantan.
Selasa, 25 Maret 2014
MASJID TIGA NEGERI


SENYUM ADALAH BAHASA UNIVERSAL
Senyum adalah bahasa universal, bahasa yang paling mudah dipahami, dan membuat hidup sehat
Sabtu, 22 Desember 2012
Kaltara, Asa Mensejajarkan Diri
AKHIR
Oktober 2012 menjadi hari bersejarah bagi NKRI karena Ibu Pertiwi melahirkan anak termudanya, yakni Kalimantan Utara, yang resmi menjadi provinsi ke-34.
DPR RI mengesahkan Provinsi Kaltara (Kalimantan Utara) pada 25 Oktober 2012 yang meliputi lima daerah, yakni Kabupaten Bulungan (Ibu Kota Provinsi Kaltara), Kota Tarakan, Kabupaten Malinau, Kabupaten Nunukan, dan Kabupaten Tana Tidung (KTT).
Berbeda dengan daerah lain (tingkat provinsi) yang masih belum disetujui untuk dimekarkan, maka Provinsi Kaltara memiliki arti strategis. Paling utama, daerah tersebut berbatasan langsung dengan Sabah dan Serawak (Malaysia bagian timur) sehingga banyak kalangan berpendapat wajar pemerintah dan DPR RI memprioritaskan Kaltara menjadi daerah otonomi baru yang terpisah dari Provinsi Kalimantan Timur.
Menengok ke belakang, maka lahir Kaltara bisa diartikan sebagai jawaban dari janji Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang sejak awal kepemimpinannya sudah berulang kali bertekad mengatasi berbagai masalah wilayah perbatasan.
Janji SBY itu, di antaranya disampaikan dalam pidato kenegaraan 15 Agustus 2008. Dalam pidato panjang itu, Presiden SBY memang hanya menyinggung wilayah perbatasan dalam dua alenia meskipun dengan nada berapi-api serta menekankan pendekatan aspek ekonomi (kesejahteraan rakyat) serta pendekatan aspek keamanan.
SBY dalam pidato itu memaparkan bahwa, "Dalam menegakkan kedaulatan negara, kebijakan pertahanan negara kita arahkan pada peningkatan profesionalisme dan kemampuan TNI. Kemampuan pertahanan negara, juga terus kita tingkatkan, antara lain dengan pemeliharaan kekuatan pokok minimum (minimum essential force), kesiapan alutsista, dan terselenggaranya latihan secara teratur. Pada bulan Juli lalu, telah dilaksanakan Latihan Gabungan TNI yang pertama sejak tahun 1996. Latihan gabungan ini, harus dilakukan secara berkala, agar Prajurit dan Satuan TNI tetap siaga, profesional, dan berkemampuan tinggi, untuk mempertahankan setiap jengkal wilayah kedaulatan NKRI".
"Khusus pembangunan wilayah perbatasan, kita lakukan melalui pendekatan beberapa aspek, terutama aspek demarkasi dan delimitasi garis batas Negara, disamping melalui pendekatan pembangunan kesejahteraan, politik, hukum, dan keamanan. Prinsipnya adalah, wilayah perbatasan kita harus dianggap sebagai beranda depan Negara
Kesatuan Republik Indonesia, dan bukannya halaman belakang negara kita," ujar SBY.
Dari sisi kebijakan, maka arah pembangunan wilayah perbatasan pada Pemerintahan Presiden SBY tampaknya sudah tepat, yakni tidak hanya pada pendekatan keamanan, namun juga pendekatan ekonomi.
Belajar dari pengalaman pada Pemerintahan Presiden HM. Soeharto, pembangunan dan perekonomian wilayah perbatasan sangat tertinggal selama 32 tahun --meskipun memiliki potensi ekonomi dari sumber daya alam serta letak yang strategis-- diduga karena Pemerintahan Orde Baru hanya menggunakan pendekatan dengan aspek keamanan.
Dalam aplikasinya, kebijakan Pemerintahan SBY itu yang tidak berjalan sesuai harapan meskipun ia mengamanahkan Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal untuk menangani langsung wilayah perbatasan.
Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal sudah memprogramkan prioritas pembangunan 27 kabupaten yang berbatasan dengan negara lain, termasuk daerah di utara Kaltim.
Kenyataannya, program itu tidak berjalan baik sehingga kondisi wilayah perbatasan tetap tidak berubah meskipun di Indonesia sudah lima kali ganti kepala negara.
"Di balik berbagai kelemahan dalam mengatasi masalah perbatasan, maka sikap pemerintahan sekarang yang sangat mendukung terbentuk Kaltara adalah cerminan 'political will' (kemauan politik) SBY untuk memenuhi komitmennya," kata Wakil Ketua DPRD Kalimantan Timur H. Ajie Sofyan Alex.
======================Arti Strategis Kaltara=====================================
Langkah Presiden SBY yang sangat mendukung terbentuknya Kaltara sejalan dengan keinginan warga utara Kalimantan Timur dalam mengatasi berbagai masalah di wilayah perbatasan.
Selama ini, kondisi pembangunan wilayah perbatasan sangat tertinggal ketimbang daerah lain di Kalimantan Timur. Pada gilirannya, wilayah yang minim dengan infrastruktur perhubungan dan komunikasi itu menjadi kawasan empuk bagi pelaku tindak kejahatan yang diperkirakan merugikan negara hingga triliunan rupiah per tahun.
Tindak kejahatan yang secara ekonomis sangat merugikan negara antara lain dari kegiatan pembalakan liar, penambangan tanpa izin, pencurian ikan, penyelundupan, peredaran narkoba dan TKI ilegal.
Selain kasus tersebut, ketertinggalan pembangunan perbatasan melahirkan dua bentuk kejahatan lain yang sangat merugikan bagi Indonesia, yakni kawasan perbatasan diduga menjadi pintu gerbang keluar masuk teroris serta ancaman kehilangan wilayah teritorial.
Khusus ancaman bagi kedaulatan negara NKRI ini, Indonesia sudah pernah mengalami pengalaman pahit saat Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan di perairan utara Kalimantan Timur hilang dari pangkuan Ibu Pertiwi akibat Pemerintah Indonesia kalah berperkara melawan Pemerintah Diraja Malaysia melalui Mahkamah Internasional
di Den Haag, Belanda pada 2002.
Setelah kasus ini, ancaman bagi kedaulatan RI masih terjadi, yakni terkait klaim sepihak Malaysia terhadap blok Migas di Perairan Ambalat atau kawasan Karang Unarang, perairan utara Kalimantan Timur.
Kasus teritorial itu, bukan hanya pada kawasan perairan namun seperti pernah dilaporkan oleh Kodam VI/Tanjungpura --kini Kodam VI Mulawarman-- bahwa patok perbatasan sempat bergeser beberapa kilometer diduga akibat aktivitas pembalakan liar oleh cukong dari negeri jiran yang menggunakan alat berat.
Pengamat perbatasan dari Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda Prof Sarosa Hamongpranoto, SH Mhum dan Wakil Ketua DPRD Kaltim H. Ajie Sofyan Alex sepakat bahwa keberadaan Provinsi Kalimantan Utara sangat strategis dalam mengatasi berbagai persoalan wilayah perbatasan di utara Kaltim.
"Berbagai kasus di kawasan perbatasan, seperti 'illegal logging', 'illegal fishing', 'illegal mining', penyelundupan dan masalah tenaga kerja ilegal marak terjadi akibat lemahnya pengawasan. Pengawasan itu lemah akibat wilayah Kalimantan Timur terlalu luas," kata Sarosa.
Kalimantan Timur yang luas wilayah 1,5 kali Pulau Jawa plus Pulau Madura memiliki garis perbatasan darat yang harus mendapat pengawasan ketat mencapai 1.038 Km dengan kondisi jalan sangat memprihatinkan.
Kondisi tersebut menyebabkan prajurit TNI tidak bisa optimal mengawasi perbatasan darat di wilayah utara Kaltim meskipun terdapat sekitar 20 pos pengawasan perbatasan.
"Tidak hanya gagal dalam pendekatan dengan aspek keamanan namun pendekatan dengan aspek ekonomi juga tidak membuahkan hasil. Pada gilirannya, berbagai aksi kejahatan di wilayah perbatasan justru melibatkan warga kita, alasan utamanya tentu terkait urusan ekonomi," kata Sarosa.
Kenyataannya memang demikian, berbagai aksi kejahatan yang merugikan negara yang diperkirakan hingga triliuan rupiah per tahun melibatkan warga Indonesia, bahkan bukan hanya warga biasa akan tetapi juga oknum aparat.
Misalnya, aksi pencurian ikan di perairan Sebatik, Kabupaten Nunukan hampir semuanya merupakan nelayan warga Indonesia akan tetapi kegiatan mereka dimodali oleh cukong dari Tawau, Sabah. Demikian juga pada kasus pembalakan liar (illegal logging) dan penyelundupan, hampir semua pelakunya WNI akan tetapi pemodalnya dari
Malaysia.
"Harapan kita, dengan terbetuknya Provinsi Kaltara maka pengawasan di wilayah perbatasan akan lebih ketat, yakni dengan terbentuknya sebuah provinsi, maka akan dibentuk pula berbagai lembaga, badan dan instansi setingkat provinsi. Misalnya, pembentukan Polisi Daerah (Polda), Komando Resort Milite (Korem), Kantor Bea Cukai dan lembaga lain yang terkait masalah pengawasan dan percepatan pembangunan kawasan itu," ujar Sarosa.
Senada dengan hal itu, Sofyan Alex, politisi dari PDI Perjuangan Kaltim menilai bahwa keberadaan Kaltara sangat strategis baik dalam mengatasi masalah keamanan maupun percepatan pembangunan serta pengembangan perekonomian kawasan perbatasan.
"Wilayah utara Kalimantan Timur yang sebagian wilayahnya berbatasan dengan Malaysia sebenarnya memiliki potensi sumber daya alam dan ekonomi sangat besar, tidak kalah dengan Kaltim namun selama ini pemanfaatannya belum optimal sehingga dengan status sekarang (Kaltara), diharapkan pengelolaannya bisa lebih maksimal," ujar
Sofyan Alex.
Hal itu, katanya, karena sesuai dengan tujuan pembentukan daerah otonomi baru, yakni memperpendek birokrasi, mendekatkan pelayanan serta mengintensifkan pembangunan.
=============================Dukungan Teknis==================================
"Posisi Provinsi Kaltara yang strategis karena berbatasan langsung dengan Malaysia harus bisa dioptimalkan. Contohnya, perdagangan antarnegara di utara Kalimantan Timur tersebut, selama ini berjalan secara tradisional. Namun, diharapkan nantinya bisa berjalan sesuai standar perdagangan global sehingga bermanfaat besar bagi devisa negara," kata Sofyan Alex.
"Agar sasaran pembentukan Provinsi Kaltara ini bisa optimal dalam mengatasi masalah perbatasan, maka sebaiknya Pemerintahan Presiden SBY tidak sebatas memberikan dukungan politik namun juga teknis," ujar Sofyan Alex.
"Dukungan politik sudah semestinya, mengingat kewenangan dalam menjaga wilayah kesatuan RI adalah tanggung jawab pusat, misalnya dukungan dana dan sumber daya (pengerahan pasukan TNI) bagi pengamanan wilayah perbatasan karena menyangkut kedaulatan kita," ujarnya.
Sementara dukungan teknis, ujar Alex, yakni Presiden SBY diharapkan mengeluarkan kebijakan untuk mempertegas arah pembangunan kawasan itu, misalnya dituangkan dalam Perpres (peraturan presiden) terkait percepatan pembangunan.
"Percepatan pembangunan kawasan perbatasan memang mendesak. Kondisi sekarang, kita seperti melihat langit dan bumi, disparitas pembangunan begitu tajam antara wilayah Indonesia di Sebatik, Nunukan dan Kutai Barat ketimbang kemajuan di Tawau, Sabah maupun Serawak," ujarnya.
Sofyan Alex optimistis berbagai tindak kejahatan akan berkurang dengan sendirinya jika optimalisasi potensi ekonomi serta percepatan pembangunan berjalan baik.
"Warga kita masih tergiur menjadi TKI karena gaji di Malaysia lebih tinggi namun orang enggan ke negeri jiran jika gaji yang ditawarkan di sini nilainya kurang lebih dengan Malaysia. Padahal, potensi perkebunan di wilayah utara Kaltim lebih luas dari Tawau atau Sabah namun belum dimanfaatkan secara optimal," ujarnya.
Begitu pula potensi perikanan dan kelautan yang justru dimanfaatkan para cukong Malaysia akibat nelayan Indonesia mengalami keterbatasan fasilitas dan permodalan. Para nelayan tersebut terpaksa menjual hasil tangkapannya ke wilayah Malaysia karena dimodali oleh cukong ikan Malaysia.
Tampaknya, masih banyak "PR" bagi Presiden SBY dalam mengatasi berbagai masalah di kawasan perbatasan, khususnya di utara Kalimantan Timur meskipun Provinsi Kaltara sudah terbentuk.
Harapan warga utara Kalimantan Timur, agar Presiden SBY memanfaatkan dua tahun sisa kepemimpinannya sebagai momentum untuk mengentaskan masalah-masalah klasik di kawasan paling ujung negeri itu, bukan sebatas rotika membangun beranda negara pada setiap pidato kenegaraan.
Langganan:
Postingan (Atom)


.jpg)

