Sabtu, 28 Juni 2014

Cerpen - Pertaruhan

Dua pemuda awalnya bersahabat karib, dimana ada Ali disitu ada Amad, dimana ada Amad disitu ada Ali. Keduanya ibarat sendok dan garpu, atau teh dan gula. Yang jelas, persahabatan mereka benar-benar tulus dan saling menyayangi. Sakit Ali, berarti luka bagi Amad. Luka bagi Amad, nestapa bagi Ali. Namun, persahabatan yang terjalin sejak mereka kecil hingga dewasa itu akhir terputus. Hanya karena Pemilu Presiden. Ternyata dari berbagai hal mereka sepaham, hanya pandangan politik yang membuat mereka berbeda. Gara-gara politik, hubungan keduanya mulai merenggang. Perlahan keduanya menarik diri, membatasi interaksi sosial. Ibarat ada benang imajener yang membatasi keduanya. Puncaknya, mereka berdebat tentang pandangan politiknya yang ternyata sesuai dengan yang diusung dua calon presiden. Ali sangat fanatik dengan calon No 1 karena sesuai dengan pandangannya, bahwa "nasionalisme" itu yang kini menjadi persoalan bangsa sehingga sangat tepat jika hal itu dijadikan sebuah perjuangan. Sementara Amad menjagokan No 2 karena menilai bahwa Indonesia sebagai sebuah negara tidak terlepas dari globalisasi sehingga berdampak langsung bagi sektor perekonomian, politik serta berbagai bidang lainnya, meskipun berkampanye tentang perjuangan "wong cilik" namun nafas kapitalis begitu hangat terasa. Terbawa oleh hentakan masing-masing Timses yang begitu piawai dalam memainkan hati rakyat --mengangung-agungkan masing-masing kelebihan kandidat serta menggali kelemahannya sehingga tidak jelas lagi beda antara negative campaign atau black campaign-- keduanya juga ikut-ikutan mengeluarkan kata-kata yang sangat tidak pantas sehingga menguburkan persahabatan sejati keduanya. Karena emosi, keduanya melemparkan taruhan. Hal yang dipertaruhkan bukan siapa calon presiden yang akan mendapat amanah rakyat untuk menjadi orang nomor satu di Indonesia. Namun, mereka bertaruh untuk menjalankan pandangan hidupnya masing-masing seperti yang mereka perdebatkan itu di dalam dunia nyata setelah usai kuliah. Dan selama itu mereka tidak akan melakukan interaksi, dan masing-masing akan membuktikan siapa yang paling benar setelah 20 tahun akan datang. 20 tahun kemudian...... Seorang pejabat berdiri di jendela kantor megahnya. Ali kini telah menjadi seorang pejabat eselon I. Dari sisi karir, ia telah mencapai sebuah jejang tinggi di pemerintahan. Ia juga dikenal sebagai seorang pejabat yang tegas, jujur, dan disiplin. Namun, di balik kesuksesannya ada sesuatu yang terasa kosong, yakni ia merasa berada dalam sebuah kerangkeng yang bernama "birokrasi" yang tidak mampu menerapkan ide-idenya, meskipun dengan kata indah "nasionalisme" karena di atasnya beberapa tingkat, dari gubernur, kementerian, anggota legislatif bahkan presiden sendiri memiliki pemahaman dan kepentingan yang berbeda-beda tentang sosok "nasionalisme". "Rasanya tidak pantas aku menunjukkan muka ini kepada satu-satunya sahabatku, Amad, meskipun sukses di karir tapi hakikatnya aku tidak mampu melakukan apa-apa. Ternyata aku telah keliru dengan pandanganku selama ini". .................. Sementara itu, di ruang kerja sekaligus menjadi ruang tamu mewah di sebuah gedung lantai 20, duduk termenung seorang CEO sebuah perusahaan multi-nasional. Dari pencapaian karir dan pendapatan, tidak ada yang meragukan Amad namun ia pun merasakan sesuatu yang kosong di bilik jiwanya. Pandangannya mengagung-agungkan sebuah perdagangan bebas dan kapitalis ternyata terbawa dalam kehidupannya sehari-hari. Workaholic, sifat curiga serta memandang rendah orang lain, apalagi orang miskin membuat ia terasing, tidak hanya keluarga jauh namun adik, kakak, bahkan orangtuanya sudah tidak mengakuinya sebagai keluarga. Keluarga yang ada hanya anak dan istri namun ia merasa bahwa cinta dan kasih-sayang mereka palsu karena hanya mengincar hartanya. "Paling mereka mendoakan, agar aku cepat mati, pasti warisan saja yang mereka pikirnya". Pikiran-pikiran seperti itu yang menghantuinya. "Jika sekedar menggenggam kesuksesan semu, rasanya tidak pantas aku menemui sahabat terbaikku, Ali, ternyata dia benar". Ternyata pertaruhan yang mereka jadikan sebagai "doktrin" itu ternyata tidak berarti apa-apa, bahkan harus mengorbankan persahabatan sejati mereka selama 20 tahun. **** (Kadrie Oening, suatu malam di akhir Juni 2014)

ceritaku - Arti Sebuah Kesetiaan

Aku paling suka memilih kata kunci untuk pemulihan pasword untuk email, media sosial dan sejenisnya, pada pilihan What was the name of your first pet ? Jawabku "mugli". Benar, itu nama binatang peliharaan pertamaku, tepatnya seekor anjing. Mungkin sebelum mugli, burung dara, ada kucing, monyet dan burung enggang yang kami jadikan peliharaan karena ayahku hobi pelihara binatang. Tapi mugli adalah binatang yang benar-benar kupelihara dengan tanganku. Nama Mugli, ku ambil dari sebuah komik, "Mugli, si anak srigala". Suatu hari, saat pulang sekolah --SMP kelas dua-- seekor anak anjing lucu mengikutiku dengan mengibas-ibas ekornya. Hasan, karibku di sekolah, langsung menangkapnya dan mengajakku bergegas naik angkot, "ini anjing bagus, tidak adakah orang melihat saat aku ambil," ujarnya. "Mana aku tahu, yang penting aku tidak terlibat, jika yang punya lapor polisi," ujarku sambil menurunkan nada suara karena diberi signal oleh hasan yang khawatir, sopir angkot mendengar pembicaraan kami. setelah dekat rumahnya, hasan menyerahkan anak anjing itu kepadaku "aku titip, tidak mungkin aku pelihara nanti ami Idrus marah," katanya. "Jelas marah, mana ada Habib pelihara anjing," balasku gusar melihat kelakuan Hasan, ia yang membuat masalah tapi aku diberi tugas. Tanpa tunggu persetujuanku, ia langsung turun angkot. Akhirnya anak anjing berbulu hitam lebat itu aku bawa pulang dan diam-diam membuat kandang hasil modifikasi dari rumahan burung dara yang tak terpakai. Sepandai-pandainya melihara anak anjing pasti menggonggong jua. Ternyata ayahku santai saja. Setelah dilaporkan adikku, "biarin aja, biar dia belajar tanggung jawab merawat peliharaannya". Lain lagi ibuku, dengan berbagai dalih dan ayat ia melarang aku memelihara anjing, namun aku yang sudah jatuh cinta dengan kelucuannya tetap ngotot, akhirnya ibu mengalah dengan berbagai syarat dan syariat, "pokoknya jangan sampai dibawa ke rumah, karna jika ada bulu anjing, malaikat 40 hari tidak mau masuk rumah. Kalau habis pegang, sebelum cuci tangan pakai sabun, basuh dulu dengan tanah, setelah cuci bersih ambil air wudhu...". "Iyaaaaa..." ujarku tanpa sempat mendengar syarat lain yang sepertinya kian mustahil mampu aku lakukan. Setiap hari jika aku di rumah pasti bermain dengan mugli, yang ternyata anjing cerdas, main lempar kayu, suruh duduk dan berbaring sudah bisa ia lakukan. Saat aku kelas tiga SMP, memasuki Ramadhan. Suatu malam, anak-anak sepantaran aku saat melintasi depan rumah menuju masjid untuk tarawih, tak sengaja menginjak ekor Mugli yang berbaring di jalan. Mungkin karena kaget, ia langsung menggeram, serta mengancam dengan taringnya, salah seorang mengambil batu dan menimpuknya. Ternyata itulah awal masalah, Mugli ternyata punya ingatan kuat, sehingga anak yang menimpuknya itu tidak pernah bisa aman dan tentram jika melintasi depan rumah kami karena pasti digonggong dan dikejar. Merasa terus diteror, akhirnya orangtua dia memprotes kepada ibuku. Dua hari setelah itu, usai sekolah aku merasa ada yang janggal, setiap hati biasanya sudah terdengar gongongan mugli dari jauh saat melihat aku, dia pasti menunggu depan pagar rumah kami sambil mengibas-ngibas ekornya. Ternyata mugli telah diberikan, seorang penjual buah dari pedalaman kebetulan mencari anjing untuk menjaga kebunnya dan langsung diberikan ibuku. Protesku sudah tak berguna karena mugli sudah di bawa ke jantung hutan Borneo, nun jauh di sana. Berhari-hari aku seperti orang patah hati, kadang menangis jika tidak ada orang lain. Bayangan mugli yang mengantar dan menjemput depan pagar, saat pergi dan pulang sering terbayang. Ternyata sebuah ketulusan dan kesetiaan sangat berarti meskipun itu hanya oleh seekor anjing. Mengenangnya, nama mugli selalu aku pilih untuk pemulihan email dan media sosial.

Cerpen - bukan cari ocehan

Panas Jakarta memang luar biasa, matahari seperti di ubun-ubun, saat memikirkan nikmat es kelapa muda, ternyata ada warung jus buah di sebuah sudut Kwitang Jakarta, "orang baik, selalu diberi berkah" batinku sambil langsung mencari tempat duduk dekat kipas angin yang tergantung di tengah warung serta pesan es degan. Tak berapa lama masuk dua gadis yang dari penampilannya seperti anak kuliahan, "mending Prabowo, orangnya tegas, biar Malaysia tidak seenaknya, jangan sampe kasus hilangnya Pulau Sipadan terulang lagi," ujar gadis baju merah sambil tampak sibuk on line di gadgetnya. "Klo gua sih Jokowi aja, orangnya sederhana dan merakyat", ujar temannya yang cukup manis namun wajahnya penuh jerawatan. "Lu sih gak mikir, klo diye jadi presiden, anak-anak sekolah gak serius belajar, habis ada foto lucu di gantung depan kelas, klo Prabowo kan duren, siapa tahu ada jodoh," keduanya langsung tertawa, sayapun ikut tersenyum tak sengaja dengar obrolan mereka "Mang, pilih siapa," ujar si baju merah kepada pemilik warung saat mengantarkan minuman jus pesanan mereka, "Neng, hati-hati ngomong, kemarin karena canda seperti itu, kemarin dua pemuda berantem di depan," ujar pemilik . warung. Gara-gara candaan gadis tersebut, pemilik warung pindahkan kursinya mendekatiku, "bapak dari mana? ". "Dari Kalimantan Mang,"."klo di Jakarta, hati-hati ngomong masalah itu, bener kemarin karena omongan, dua pemuda berantem di depan. Heran, dibayar kagak, tapi bela mati". "Mungkin karena, orang-orang atas sono, bukan bersaing program tapi saling fitnah, mencari-cari kesalahan orang lain, rakyatpun ikut-ikutan bodohnya, bela sampe mati, padahal siapapun jadi presidennya, kite gini-gini aje". Entah dengar atau tidak dua gadis tersebut tampak sibuk dengan gadgetnya masing-masing. "Kite merantau ke sini cari makan bukan cari ocehan," lanjut penjaga warung meneruskan petuahnya yang tidak jelas ditujukan untuk siapa. "Sama mang, saya datang ke sini cuma cari es kelapa muda," ujarku yang ternyata terdengar lucu bagi dua gadis tersebut sehingga mereka kembali tertawa, akupun bergegas menyodorkan uang sepuluhuan ribu membayar es degan dan langsung cabut ketimbang mendengar petuah politik sang penjual jus buah...

Cerpen - adikku, si indian

Berita duka tentang meninggalnya adikku Aditya, benar-benar menjadi pukulan berat dan aku tidak ingin kehilangan momen untuk mengantarkan ke tempat peristirahatan terakhir. Tak perduli jika ada tugas terakhir beberapa hari ini maka gelar doktoral dari Monash University, Melbourne akan aku genggam. Untunglah, Pak Bas --salah seorang dosen di sana yang telah menjadi permanent residen-- berjanji membantuku jika kembali ke Ausie. Perjalanan panjang hampir enam jam, sidney-melbourne-jakarta terasa kian lama, ya itulah beda perjalanan wisata dan perjalanan karena duka. Sepanjang jalan, meskipun aku berusaha menutup mata dan telah menghabiskan tiga sloki double wiskey cola yang ku minta dari pramugari namun tak juga bisa tidur. Malah di benakku seperti sedang diputar ulang film masa kecil. Kami terlahir dari keluarga berada, aku adalah anak ke empat dari lima bersaudara, dan Aditya adalah anak bungsu. Biasanya, anak bontot adalah anak paling dimanja dan disayang namun tidak dengan Aditya, malah sepertinya, ia anak paling tidak disukai oleh ayah, ibu dan kakak-kakak kami, kecuali aku. Apalagi tetangga dan anak-anak seusia kami. Maklum saja adikku ini, terlahir cacat, kakinya timpang dan bisu. Mungkin karena usia kami beda satu tahun maka hubungan kami dekat, bahkan sering aku berkelahi karena mereka mengejek adikku. Herannya orangtua dan tiga kakak kami tidak mempersoalkan aku yang sering berantem tapi mempersalahkan Aditya. Suatu malam, aku terbangun mendengar ayah dan ibu bertengkar. Tanpa sadar ibu mengungkit jika ia sejak awal tak menghendaki kehadirannya. Saat hamil muda, ibu yang ingin kembali berakvitas dipekerjaannya makan obat perontok namun gagal sehingga hal itu yang menyebabkan ia melahirkan anak tak normal. Aku meringkuk di pinggir ranjang selain takut orangtuaku tahu aku menguping, juga baru paham jika mereka menganggap Aditya anak sial. Sejak saat itu, aku kian menyayangi dan melindunginya karena merasa orang sedunia membenci adikku.sama seperti anak-anak normal, maka aku dan Aditya juga suka bermain, permainan favorit kami adalah memerankan jagoan The Lone Ranger, aku jadi pahlawan bertopeng dan Aditya jadi Tonton, si Indian karibnya. Lamunanku perlahan pudar bersamaan suara pramugari yang mengingatkan jika pesawat segera mendarat. Di rumah duka tampak sejumlah kerabat, teman bisnis orangtuaku, dan tiga saudaraku bersama istri dan suami mereka. Aku tidak tapi perduli dengan sikap palsu mereka yang masih bersandiwara itu. Di ruang tengah terbujur kaku, saudara paling aku kasihani. Lama aku terduduk. Aku tidak menangis, karena air mataku sudah kering, menangis selama di pesawat. Selain itu, perasaan sedih berkurang saat menatap wajahnya, karena tampak tersenyum tenang dalam tidur panjangnya, tak ada lagi tatapan sendu dan ketakutan. Seperti saat melihat bunda murka jika ia dianggap berbuat salah. Perlahan aku meninggalkan jasadnya dan mengurung diri di kamar Aditya, tak sengaja aku melihat dompet tua berwarna coklat yang sepertinya aku kenal di laji meja. Ya, dompet ini hadiah dariku pada ulang tahunnya. Saat ku buka, tak ada isinya, selain sebuah foto masa kecil, aku dan Aditya yang berpakaian ala pahlawan bertopeng the lone ranger dan sahabatnya, tonto si indian. Baru aku perhatikan raut wajah Aditya dalam foto itu sama seperti wajahnya saat meninggal, mungkinkah hanya dua momen ini yang paling membahagiakannya. Selamat jalan adikku, selamat istirahat panjang sahabat indian ku, ya Allah berilah tempat yang layak di sisi-Mu, amin. (suatu malam juni 2014, kadrie oening samarinda)

cerpen - when money talks

"Siang bang," ujar sopir Bluebird begitu aku menutup pintu mobil dan duduk di jok belakang. "Cempaka mas pak" ujarku. Mobil taksi berwarna biru teduh itupun melaju namun saat melintasi Jl Sudirman, Jakarta menampakkan wajah aslinya yang garang--kemacetan jadi ritual rutin-- memecah kebisuan aku bertanya sekenanya "nama bapak Armada ya". "Ah abang canda aja, armada..sekian..sekian mah No taksi, nama saya Anto pak" ujar sopir tersenyum sambil melihat aku melalui kaca spion tengah. "Sory pak, aku pikir nama bapak Armada..sekian.Sekian.."ujarku balas tersenyum yang awalnya tak bermaksud bercanda namun akhirnya pura-pura bercanda untuk menutup malu karena salah baca id card sopir. Mungkin karena dianggap aku suka canda akhirnya sang sopir berkicau tentang berbagai hal, termasuk mengomentari beberapa penjual buku tentang Prabowo dan Jokowi yang menjajakannya di sekitar traffictlight kepada pengendara atau penumpang seperti diriku. "Semua dijual di Jakarta yang penting jadi duit, jual diri, jual anak," katanya. "Cuma satu yang tidak dijual pak?" ujarku dengan kalimat gantung,"Apa bang?", "Ayah dan ibu", "ha ha ha...kalau itu dijual bakalan kualat..". "mohon maaf bang, ke jakarta bisnis atau libur". "Dua-duanya pak, libur sekalian kerja, kerja sekalian libur", terpancing dengan sikap sopir banyak bicara, akhirnya aku seperti curhat, menuturkan tentang kondisiku yang dalam pekerjaan sudah sampai titik jenuh, sebagai seorang manajer di perusahaan pengadaan alat konstruksi hampir semua daerah sudah aku singgahi, gaji dan tunjangan sangat memuaskan tapi posisi ini hampir 20 tahun aku jalani, kemampuan lobi serta keluwesanku mendekati bos besar yang juga pemilik perusahaan menyebabkan, posisiku seperti tak tergantikan saking percayanya kepada diriku. Meski aku sering mengeluh sendiri karena banyak pekerjaan bukan di bidangku namun jadi tugasku karena perintah langsung dari the big bos. Hal lain yang kian membuatku ingin berhenti adalah prilaku bos besar, yakni sangat kasar jika ada masalah, kata-katanya melukai harga diri anak buahnya termasuk aku,"Mau wiraswasta, belum berani, mau pindah perusahaan, takut kesejahteraan tidak sama, kalau menurut bapak bagaimana? Lama terdiam, sopir itu menilai sebaiknya, aku tetap bekerja "sudahlah bang, lupakan masalah moral, yang penting, pendapatan abang sangat memuaskan.secape capeknya orang kerja akan enak jika uang banyak, tapi seenak-enaknya orang nganggur, cuma makan tidur tapi sangat sakit jika tidak punya uang, jika tidak punya uang, kita tak ada harganya, teman jadi musuh, kerabat menjauh, saudarapun jadi orang lain". Tak terasa, kami sudah memasuki parkir Mal Cempaka Emas, aku segera mencabut dua lembar uang seratus ribuan dan segera melangkah,"bang, kebanyakan nih, cuma rp80 rebu". Aku tersenyum dan melambaikan tangan tanda aku ikhlas memberinya lebih.

cerpen - Sahabat Nakalku

20 tahun merupakan waktu cukup lama, waktu yang bisa membuat orang menjadi matang dan bijaksana. 20 tahun juga merupakan masa cukup lama dan bermakna sebuah nostalgia mendalam jika mengenang kejadian dua dasawarsa silam. Hal itulah yang ku alami saat bertemu secara tidak sengaja teman sekolah --sepermainan masa kecil-- saat mudik ke kampung halaman. Hampir 20 tahun tidak bertemu, aku nyaris tidak mengenalnya, semua tampak berubah, dari penampilan dan pengakuannya, aku percaya jika kini ia menjadi pengusaha kontraktor sukses. Bahkan, ia mengaku lolos meraih kursi pada Pileg lalu. Bergeser ke cerita masa lalu, tawanya berderai, saat mengenang kenakalan kami saat menangkap dan memanggang ayam tetangga sial yang masuk ke pekarangan rumahnya. Setelah puas tertawa-tawa saat mengenang kebegalan kami waktu kecil, akhirnya, aku mengeluarkan"pertanyaan wajib orang Melayu" jika bertemu sahabat lama yakni tentang berapa putranya? Wajahnya langsung berubah seperti ada mendung berkabut untuk menyembunyikan kehampaan. Akupun seperti menyalahkan diriku atas kelancangan menghentikan keceriaannya mengenang masa kecil kami. "Anakku satu-satunya meninggal is akibat kecelakaan lalu lintas, ibunya selamat meski sekarang lumpuh, menurut dokter tak mungkin bisa normal lagi, dan aku tak mungkin meninggalkannya meski mertuaku telah mengizinkan aku kawin lagi". Usai menuturkan insiden maut itu, tiba-tiba Hp-nya berdering dan ia berpamitan dengan alasan ada janji dengan rekan bisnis. Tinggal aku sendiri duduk termenung dengan berbagai perasaan menembus bilik empatiku. Ternyata, keutuhan keluarga adalah harta sangat tak ternilai, dan kesehatan kita sekeluarga itu sebuah rezeki yang sangat berharga namun kadang-kadang lupa kita syukuri. Hikmah lain, mungkin itulah alasan orang bule, tabu menanyakan masalah usia, agama dan keluarga, entahlah. (cerpen untuk sahabat).

Kamis, 05 Juni 2014

Menatap Masa Depan Gajah Kerdil Borneo

SAAT melihat kawanan gajah di televisi, maka umumnya orang membayangkan habitatnya di Pulau Sumatera, Thailand, India atau negara-negara di Afrika. Padahal ada satu kawasan yang ternyata menjadi habitat kawanan gajah tersebut, yakni di utara Kalimantan. Bagi warga utara Kalimantan, khususnya yang berusia lanjut, keberadaan populasi gajah di kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia bukan hal yang aneh. Gajah Borneo kerdil (Elephas maximus borneensis) itu, konon, terakhir terlihat sekitar awal 1960-an, saat seorang prajurit RI (KKO Mariner) yang bertugas di perbatasan saat terjadi konfrontasi Indonesia dengan Malaysia (1963-1966) menembak mati seekor gajah yang mengamuk di sebuah perkampungan di wilayah Sebuku (Nunukan). Namun, seiring perjalanan waktu disertai kian gencarnya aktivitas perhutanan dan perkebunan, satwa langka itu sempat dianggap punah karena tidak satupun warga di perbatasan yang melihat keberadaannya. Kemudian, pada 1990-an, pihak Kanwil Kehutanan Kalimantan Timur mendapat laporan baik dari warga perbatasan maupun petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) setempat bahwa diperkirakan masih ada kawanan gajah di wilayah utara Kalimantan itu berdasarkan jejak kaki dan kotorannya. Berdasarkan laporan itu, maka sejumlah peneliti dan penggiat lingkungan hidup baik dari lembaga pendidikan serta organisasi lingkungan hidup, misalnya WWF¿s (World Wide Fund for Nature) kian intensif melakukan pemantauan dan penelitian di perbatasan. Apalagi di kawasan perbatasan itu terbentang salah satu kawasan konservasi terbesar di dunia, yakni Taman Nasional Kayan Mentarang (1.360.500 hektar). Taman Nasional Kayan Mentarang menjadi sangat penting karena merupakan suatu kesatuan kawasan hutan primer dan hutan sekunder tua yang terbesar dan masih tersisa di Kalimantan dan seluruh Asia Tenggara. Penampakan gajah tersebut selain menjadi berita menggembirakan khususnya terkait upaya pelestariannya namun di sisi lain juga cukup mengkhawatirkan karena intensifnya interaksi antara manusia dengan satwa-satwa langka yang mendekati pemukiman itu atau sebuah indikaso bahwa kondisi hutan yang menjadi habitatnya kian rusak. Wilayah perbatasan dalam beberapa dakade terakhir, menjadi salah satu kawasan paling rawan terjadi berbagai kasus kejahatan, bukan hanya pada kegiatan "illegal logging", penyelundupan dan pencurian ikan namun peredaran senjata api dan Narkoba, termasuk ancaman bagi teritorial RI. Silih berganti pemerintahan serta berbagai upaya telah dilakukan dalam menekan berbagai tindak kejahatan di kawasan perbatasan namun tampaknya berbagai program dan strategi tersebut belum mampu mengatasi berbagai kerawanan kawasan perbatasan. Alasan klasiknya, yakni pengamanan terbentur dengan wilayah Kalimantan Timur yang terlalu luas (1,5 kali Pulau Jawa dan Pulau Madura) yang dibarengi dengan kelemahan berbagai prasarana dan sarana perhubungan dan telekomunikasi. Akhirnya, secercah harapan menyinari kawasan perbatasan, saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 16 November 2012 telah menandatangani UU No. 20 Tahun 2012 tentang Pembentukan Provinsi Kalimantan Utara (sebelumnya masuk dalam wilayah administratif Kalimantan Timur). Sebelum disahkan Presiden, RUU pembentukan Provinsi Kalimantan Utara telah disetujui oleh Rapat Paripurna DPR pada 25 Oktober 2012 untuk disahkan menjadi Undang-Undang (UU). Pertanyaannya, benarkan melalui sebuah otonomi daerah--lahirnya Provinsi Kalimantan Utara-- pengelolaan lingkungan hidup akan bisa lebih baik sehingga memberi asa terhadap kelestarian Gajah Borneo. Optimistis "Sekarang ini memang belum terasa dampaknya karena Provinsi Kaltara meskipun sudah disahkan akan tetapi belum efektif dalam menjalankan sebuah pemerintahan karena belum memiliki kepala daerah (gubernur) dan dewan yang definitif," kata pengamat perbatasan di Kalimantan Timur, Prof Sarosa Hamongpranoto, SH, M.Hum. Kalimantan Utara yang merupakan anak bungsu Ibu Pertiwi atau provinsi ke-34 saat ini masih dipimpin oleh Pj (pejabat gubernur) yang saat ini diamanahkan kepada Irianto Lambrie, dan baru melaksanakan Pemilu kepala daerah pada awal 2015. Sarosa menilai bahwa jika pemerintahan daerah sudah berjalan efektif serta berbagai lembaga/organisasi/instansi setingkat provinsi sudah terbentuk maka ia optimistis pengawasan dan pengamanan wilayah perbatasan di Kalimantan Utara akan berjalan baik. Selama ini, ujarnya, hambatan mengamankan wilayah perbatasan karena terbentur luas wilayah dibarengi dengan berbagai keterbatasan prasarana dan sarana perhubungan dan komunikasi namun dengan adanya pemekaran wilayah maka persoalan itu bisa diatasi, mengingat otonomi daerah hakikatnya mendekatkan pelayanan birokrasi dan pembangunan. Hal terpenting lainnya, ujar Sarosa adalah Pemerintah Pusat atau Pemprov Kalimantan Utara bekerja sama dengan Pemkab Malinau dan Pemkab Nunukan (dua daerah yang berbatasan darat dan laut dengan Malaysia Timur, Sabah dan Serawak) mampu membuah sebuah rencana besar dalam mengamankan potensi alamnya baik dari berbagai tindak kejahatan yang merusak lingkungan, maupun ancaman yang bisa merugikan Indonesia terkait batas wilayah/teritorial. Pengalaman selama ini, jika terjadi persoalan di wilayah perbatasan adalah saling tuding dan lempar tanggung jawab antara perintah pusat dan daerah. Ia juga berharap agar kelestarian sejumlah konservasi alam di kawasan perbatasan fungsinya terus dipelihara, misalnya Taman Nasional Kayan Mentarang, dan sejumlah hutan lindung di Malinau dan Nunukan, termasuk Hutan Lindung Sembakung dengan benar-benar menerapkan pembangunan berwawasan lingkungan. Belajar dari kesalahan Provinsi Kalimantan Timur, tampaknya pemerintah daerah di Kalimantan Utara nantinya jika akan memberikan ijin lokasi maka benar-benar pada lahan-lahan kritis bukan kawasan "berhutan". Tidak kalah pentingnya, Sarosa menilai bahwa penyelamatan lingkungan tampaknya akan bisa berhasil jika ada komitmen terus menerus dari para pemangku kebijakan dengan dikawal oleh semua pihak, termasuk media massa. Satwa Endemik Upaya penyelamatan lingkungan di Kalimantan Utara tampaknya kian strategis karena tuntasnya perdebatan mengenai asal usul Gajah Borneo yang ditemukan mengembara di rimba wilayah Sabah, Serawak dan Kalimantan Utara itu. Puluhan tahun, keberadaan gajah pemalu dan berukuran kecil tersebut diperdebatkan, ada yang mengatakan bahwa satwa langka itu adalah keturunan gajah milik Sultan Sulu. Konon, British East India Trading Company (Kongsi perdagangan Inggris di Hindia Timur) menghadiahi gajah-gajah itu kepada Sultan Sulu pada 1750. Gajah itu kemudian dilepaskan ke belantara sehingga menjadi liar. Ada pula yang menganggap bahwa gajah itu dibawa dari Thailand oleh juragan kayu, guna menarik kayu-kayu gelondongan pada awal era industri perkayuan di Kalimantan. Pendapat lain adalah menyakini bahwa gajah tersebut adalah endemik Kalimantan. Berbagai spekulasi tersebut akhirnya berakhir, saat WWF¿s (World Wide Fund for Nature) Asian Rhino and Elephant Action Plan Strategy serta peneliti dari Universitas Columbia belum lama ini melalui tes DNA Mitokondria membuktikan bahwa gajah pemalu, berukuran kecil serta berbulu lebih panjang ketimbang saudaranya di Sumatera, India, Thailand dan Afrika itu ternyata satwa asli Borneo. Bahkan, peneliti Universitas Mulawarman yang menguji DNA Gajah Borneo di balai Riset USA mendapatkan bentuk dan sifat genetik berbeda dari gajah Asia dan Afrika sehingga satwa langka ini sudah mengembara di rimba Borneo pada 30.000 tahun lalu. Survei WWF Wilayah Kaltim 2007 memperkirakan populasi Gajah Kalimantan antara 30 sampai 80 ekor di utara Kalimantan. Masa depan kelestarian gajah mini tersebut tampaknya kini berada di pundak Pemprov (definitif) Kalimantan Utara serta Pemkab Malinau dan Pemkab Nunukan dalam menjaga kelestarian alam, dari hutan hujan tropis dataran tinggi di Taman Nasional Kayan Mentarang sampai "tropical rainforest" dataran rendah di hutan lindung Sembakung. Keberhasilan menyelamatkan Gajah Mini Borneo yang merupakan subspesies dari gajah Asia dan hanya dapat ditemui di Kalimantan Utara itu bukan tidak mungkin menjadi "percontohan", mengingat WWF belum lama ini menemukan jejak badak sumatera di Kutai Barat, Kaltim, padahal satwa langka itu sudah puluhan tahun dianggap punah dari Bumi Kalimantan.

Selasa, 25 Maret 2014

MASJID TIGA NEGERI

Perjalanan spiritual menuju obyek wisata agama di Samarinda, Kalimantan Timur kian mengganggungkan nama Allah saat memandang kemegahan Masjid Islamic Center. Masjid Islamic Center Samarinda yang terletak di kawasan tepian Sungai Mahakam adalah masjid terbesar kedua di Asia Tenggara setelah Masjid Istiqlal Jakarta. Luas bangunan utama masjid ini 43.500 meter persegi. Untuk luas bangunan penunjang adalah 7.115 meter persegi dan luas lantai basement 10.235 meter persegi. Sementara lantai dasar masjid seluas 10.270 meter persegi dan lantai utama seluas 8.185 meter persegi. Sedangkan luas lantai mezanin (balkon) adalah 5.290 meter persegi. Saat senja tiba ketika cahaya matahari memancarkan sinar merah, jingga, dan kuning keemasan memantul di kubah masjid terdengar kumandang adzan pada tujuh manara masjid dengan menara utama setinggi 99 meter yang bermakna asmaul husna. Menara utama itu terdiri atas bangunan 15 lantai masing-masing lantai setinggi rata-rata enam meter. Menara itu masing-masing empat di setiap sudut masjid setinggi 70 meter dan dua menara di bagian pintu gerbang setinggi 57 meter. Enam menara ini juga bermakna sebagai enam rukun. Keistimewaan lain Masjid Islamic Center adalah pemakaian granit pada menara utamanya. Masjid yang dibangun dengan bahan-bahan kualitas terbaik itu sehingga diharapkan mampu bertahan hingga ratusan tahun. Pembangunan masjid ini membutuhkan waktu selama tujuh tahun sejak 2001-2008 diprakarsai oleh Gubernur Kalimantan Timur H Suwarna Abdul Fatah. Bangunan ini memadukan tiga arsitektur masjid terkenal, yakni Masjid Aya Sofia Istambul, Turki, Masjid Nabawi Madinah dan Masjid Putra Jaya Malaysia.

BAHASA UNIVERSAL

Senyum adalah bahasa universal. Senyum warga Myanmar pada SEA Games 2013

SENYUM ADALAH BAHASA UNIVERSAL

Senyum adalah bahasa universal, bahasa yang paling mudah dipahami, dan membuat hidup sehat