Minggu, 05 Oktober 2014
KALTARA, RAKSASA YANG KIAN MENGGELIAT
"Sekarang terbelakang, nanti terdepan". Kalimat yang melengkapi sebuah lukisan di wilayah perbatasan itu terasa menyentuh rasa kebangsaan, meskipun bukan sebuah pekik heroik.
Melengkapi kalimat itu, tampak gambar tiga orang bocah bercelana pendek tanpa alas kaki yang berjingkat seperti berlomba menggapai kain bendera Merah-Putih yang berkibar.
Di bagian atas lukisan tangan itu terdapat gambar setengah badan Pj Gubernur Kalimantan Utara Irianto Lambrie berbaju resmi kepala daerah (baju dan topi putih) yang tersenyum melihat tiga anak tersebut.
Dari tema tulisan dan lukisan pada sebuah tembok di salah satu sudut kota perbatasan di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara itu, bisa dipastikan bahwa karya tersebut dibuat untuk memperingati HUT RI 2014 beberapa waktu lalu.
HUT RI 2014 tampaknya memiliki arti khusus bagi Provinsi Kalimantan Utara, yakni belum genap berusia dua tahun saat merayakan Hari Kemerdekaan RI sejak menjadi daerah otonom hasil pemekaran dari Provinsi Kalimantan Timur.
Momentum yang bersejarah, di antaranya pada akhir Oktober 2012 karena Ibu Pertiwi melahirkan anak termudanya, yakni Kalimantan Utara, yang resmi menjadi provinsi ke-34.
DPR RI mengesahkan Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) pada 25 Oktober 2012 yang meliputi lima daerah, yakni Kabupaten Bulungan (Ibu Kota Provinsi Kaltara), Kota Tarakan, Kabupaten Malinau, Kabupaten Nunukan, dan Kabupaten Tana Tidung (KTT).
Pada 22 April 2013, akhirnya Kalimantan Utara memiliki pemimpin --meskipun belum definitif-- dengan ditunjuknya Dr Ir H Irianto Lambrie MM yang sebelumnya menjabat sebagai Sekretaris Provinsi Kalimantan Timur, menjadi Pj (pejabat) Gubernur Kaltara.
Berkat berbagai prestasinya dalam membangun Kaltara, maka pemerintah melalui Surat Keputusan (SK) Presiden RI nomor 29/P tahun 2014 tertanggal 14 April 2014, kembali memberikan amanahnya kepada Irianto Lambrie sebagai Penjabat Gubernur Kalimantan Utara.
SK Presiden diserahkan oleh Direktur Jenderal Otonomi Daerah (Dirjen Otda) Prof Dr H Djohermansyah Djohan MA atas nama Presiden RI dan Menteri Dalam Negeri di Kantor Kementerian Dalam Negeri di Jakarta, April 2014.
Tertinggal
Sebagai provinsi baru maka kondisi Kalimantan Utara cukup tertinggal ketimbang induknya, Provinsi Kalimantan Timur.
Salah satu alasan untuk pemekaran wilayah pun akibat disparitas pembangunan antara wilayah utara dengan wilayah selatan dan tengah (Kota Bontang, Kota Samarinda, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kota Samarinda dan Kota Balikpapan).
Banyak orang meragukan jika Kaltara mampu mengejar ketertinggalannya, terutama jika disejajarkan dengan kondisi kakak kandungnya (Kalimantan Timur).
Kaltara memang punya potensi Migas, batu bara, emas, dan berbagai potensi alam seperti yang ada di Kaltim namun karena keterbatasan infrastruktur sehingga pemanfaatannya juga relatif tertinggal ketimbang kegiatan ekploitasi di Bontang, Kutai Kartanegara. Samarinda dan Balikpapan.
Dari sisi infrastruktur, Kaltara jauh tertinggal, khususnya pada sektor perhubungan darat, udara dan laut ketimbang Kalimantan Timur sehingga banyak yang pesimistis jika provinsi termuda itu mampu mengejar ketertinggalannya dalam waktu singkat.
Namun, secara mengejutkan sikap pesimistis itu kini langsung sirna berganti dengan sangat optimistis berkat kejelian Pemprov Kaltara dalam menangkap peluang emas.
Ternyata tanpa terlalu mendapat sorotan mata media, Pemprov Kalimantan Utara melakukan kerja sama dengan berbagai pihak, serta membuka diri sebesar-besarnya untuk dunia investasi.
Pada akhirnya, berhasil menggaet investor Tiongkok untuk menanamkan modalnya di sana.
Dari sejumlah investasi asing itu, yang paling strategis dan bisa menjadi pilar perekonomian bukan hanya untuk Kalimantan Utara tetapi nasional adalah pengembangan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) kapasitas 6.080 MW dengan investasi Rp175 triliun selama 30 tahun.
Dengan kapasitas itu, maka Kaltara akan tercatat sebagai penghasil PLTA terbesar nasional.
Awal tahun ini, kegiatan secara resmi dilakukan oleh Wamen ESDM RI Susilo Siswoutomo disaksikan antara lain Panglima TNI Jendral Moeldoko, Kepala BKPM RI Mahendra, Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak dan Pj Gubernur Kaltara Irianto Lambrie.
Peresmian ditandai dengan peletakan batu pertama pada Tugu Pembangunan PLTA Kayan.
Dengan kapasitas sebesar itu. maka bukan hanya mampu melayani wilayah Kaltara namun juga provinsi lain seperti Kaltim karena kebutuhan tiga daerah terpadat di Kalimantan Timur (Kutai Kartanegara, Samarinda dan Balikpapan) hanya 300 MW.
"Ke depan, jika PLTA itu sudah bisa beroperasi secara penuh maka sasarannya memang bukan hanya provinsi di Indonesia akan tetapi negara tetangga, yakni Malaysia," kata Pj Gubernur Kaltara Irianto Lambrie.
Bahkan, jika pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Kayan Kecamatan Peso, Bulungan, Kalimantan Utara (Kaltara) 6.080 MW tuntas dan mulai beroperasi. bahka bisa mempengaruhi kebijakan pemerintah mengatasi krisis energi nasional.
"Pasalnya, selama ini tidak diperkirakan bahwa dalam mengatasi masalah energi nasional bisa terpecahkan melalui PLTA. Sebelumnya, pemerintah hanya sebatas pada solusi sumber energi konvensional, misalnya melalui Migas dan uap (batu bara)," kata Kepala Biro Ekonomi dan Pembangunan Pemprov Kaltara Risdianto.
Tidak Ragu
Alasan untuk menjual listrik itu, menjadi faktor utama sehingga investor dari Negeri Tirai Bambu itu tidak ragu menginvestasikan dananya untuk membendung sungai terbesar di Kalimantan Utara itu.
Selain Sungai Mahakam (Kaltim) dan Sungai Barito (Kalsel), maka Sungai Kayan adalah salah satu sungai terbesar di Borneo dengan panjang sekitar 460 km dengan lebar 200-300 meter.
"Persoalannya, selama ini pemerintah pusat dan BUMN terkait energi masih berkutat dengan kebijakan mengatasi masalah krisis energi dengan sumber-sumber yang konvensional, jadi jika PLTA ini mulai beroperasi maka rencana besar mengatasi masalah kelistrikan akan berubah," papar dia.
Pemprov Kalimantan Utara. ujar Risdianto berhasil menggaet investor asing melalui PT Hidro City Kalimantan untuk membangun pembangkit listrik air terbesar di Indonesia dengan nilai investasi sekitar 25 Miliar Dolar AS.
Sementara itu, Pj Gubernur Kaltara Irianto Lambrie menilai perlu sebuah perencanaan strategis yang komprehensif mengantisipasi "booming" sumber energi itu.
Ketersediaan sumber energi akan menjadi magnit untuk menarik sektor perdagangan dan industri ke Kaltara.
Saat ini, berbagai proses perizinan (pembebasan lahan, izin lokasi dan analisis dampak lingkungan sebagian sudah tuntas) sehingga diharapkan dalam waktu dekat akan memasuki tahap kegiatan pembangunan konstruksi.
Pemprov Kaltara dalam mendukung investasi asing tersebut membentuk Tim Percepatan Izin PLTA.
Sekiranya tidak ada hambatan yang berarti, maka dalam beberapa tahun mendatang, mulai dari tahap 10 tahun pertama, kedua dan ketiga maka Kalimantan Utara mampu mengatasi salah satu persoalan paling krusial di tanah air, yakni krisis sumber energi kelistrikan.
Keberhasilan itu sangat vital karena bisa mengatasi ketergantungan nasional yang sangat tinggi terhadap sumber daya yang tidak bisa diperbaharui, yakni migas dan batu bara.
Geliat itu kini kian terasa, tinggal bagaimana semua pihak bisa menjaga agar terbangunnya "raksasa" itu dari tidur panjang tak terganggu oleh masalah-masalah klasik yang sering merusak dunia investasi, antara lain buruknya birokrasi (perebutan kewenangan pusat-daerah), suasana politik yang berimbas ke iklim investasi, serta masalah keamanan (aksi demo menuntut ganti rugi).
Geliat raksasa itu baru satu bidang investasi, padahal Kaltara memiliki potensi Migas yang belum tergaraf optimal. Mengapa Malaysia begitu ngotot mengklaim wilayah perairan Ambalat sebagai wilayah teritrorialnya, itu karena potensi Migas. Padahal potensi Migas di Ambalat adalah bagian hilirnya, sedangkan hulu berada di kawasan perairan Bulungan.
Sehingga ada pengamat ekonomi menilai bahwa jika berbagai potensi tersebut tergaraf dengan baik, maksudnya kontribusi benar-benar dirasakan oleh bangsa Indonesia dan rakyat Kaltara --bukan sematas kata optimal-- maka pegerakan ekonomi wilayah utara Kalimantan Timur itu mampu melebihi beberapa daerah kaya di Indonesia, termasuk Kutai Kartanegara, apalagi berbagai potensi alam yang tidak bisa diperbaharui kian menitis serta pengelolaannya selama ini belum sepenuhnya dinikmati oleh warga Kaltim.
Gajah Mini Borneo yang terdapat di Kecamatan Sebuku, Nunukan, Kaltara
Sabtu, 28 Juni 2014
ceritaku - Harta Berharga Bukan Warisan
Secara subyektif, aku merasa adalah salah satu cucu kesayangan kakekku. Buktinya, sejak SD kelas tiga sampai lulus sekolah dasar, aku lebih suka tinggal bersama kakekku di "Rumah Besar".
"Rumah Besar" adalah sebutan kami untuk tempat tinggal kakekku karena rumahnya memang besar, maklum bangunan asli peninggalan masa silam, berbentuk rumah panggung yang tiang rumahnya hampir dua meter.
Di bawah kolong rumah itu menjadi tempat arema bermain kami. Main wayang, main kelereng, main gasing dan berbagai permainan tradisional. Teman-teman bermain --anak-anak seusiaku saat itu-- paling sepupu sekali dan sepupu dua kali karena kami keluarga besar.
Menjadi cucu kesayangan, membuat diriku sedikit nakal dan keras kepala. Pasalnya, aku kecil berhasil memanfaatkan arti cucu kesayangan sebagai "senjata" jika aku dimarahi ayah atau ibu.
Cara orangtua dulu mendidik anak dengan memukul --menyabet kaki pake rotan-- adalah hal biasa. Biasanya, orang-orangtua dulu memiliki rotan seukuran jari kelingking panjang setengah atau seperempat meter berfungsi ganda, yakni untuk alat penunjuk saat belajar ngaji (membaca tulisan Arab) dan memukul kaki anak jika berulang-ulang salah membaca "alifan", atau untuk menghajar anak yang dianggap terlalu nakal.
Jika melihat gelagat orangtuaku marah besar karena kenakalanku, biasanya menggoda adik sehingga menangis, aku akan lari ke rumah besar untuk berlindung, dan jika tahu aku ada di rumah kakek, baik ayah maupun ibu tidak berani marah-marah di sana karena kakekku sangat dihormati dan disegani.
Suatu sore, kami sedang asik bermain kelereng di bawah kolong rumah besar. Tiba-tiba, kami kaget melihat Abdul, salah seorang sepupuku yang usianya satu tahun lebih tua lari menuju rumah besar hanya mengenakan celana pendek, tanpa pakaian dan alas kaki.
Kakek yang duduk di kursi malasnya di beranda rumah besar juga kaget. Abdul dengan terengah-engah langsung duduk di lantai di belakang kursi kakek. "Kamu kenapa ? " ujar kakek namun Abdul hanya diam dengan wajah ketakutan.
Tidak lama, dari kejauhan tampak pamanku, ayah Abdul bergegas menuju rumah besar dan ditangannya tampak memegang rotan. Namun, ketika melihat kakekku, paman langsung membalik tangannya untuk menyembunyikan rotan di balik badannya.
Posisi pamanku terlihat canggung karena ingin berbalik namun sudah terlanjur di lihat kakek. Kakekpun melambai agar ia mendekat. "Kenapa ? " tanya kakek dengan nada menegur.
"Bukan apa-apa," kata pamanku. "Dia berbuat apa," kata Kakek dengan tatapan tajam minta penjelasan. "Tadi gurunya ke rumah, kasih tahu jika ia beberapa hari tidak sekolah," ujar pamanku akhirnya menyampaikan persoalan sebenarnya.
"Kalau urusan itu, pukul saja dia, jangan malas sekolah, harta paling berharga itu adalah ilmu, bukan warisan," ujar kakek tegas. Mendengar ucapan kakek, belum dipukul oleh paman, Abdul sudah meraung-raung menangis, mungkin karena sakit hati tidak ada yang membela.
Sejak kejadian itu, aku tidak ingin bermalas-malasan lagi ke sekolah, ternyata jika urusan pendidikan kakek tidak akan membela kami. ***
Ceritaku - Dongeng vs Televisi
Aku terlahir dari keluarga besar. Benar-benar besar, pasalnya kakekku istrinya empat --entalah, aku tidak berani memikirkan, apakah sunah Rasul, khawatir kualat-- jadi sepupu sekali dan sepupu dua kali yang usianya sepantaran aku juga banyak. Hal paling menyenangkan kami --cucu-cucu kakek sepantaran usiaku saat masih kelas 1 dan 2 SD-- adalah menjelang tidur malam. Pada hari libur hampir semua cucu kakek sepantaran aku tidur di rumah kakek. Rumah kakek, asli rumah peninggalan masa lampau, berbentuk rumah panggung, lebar dan panjang 20 x 70 meter, usianya sudah ratusan tahun tapi karena bahan-bahan bangunan umumnya dari ulin dan bangkirai sehingga masih kokoh berdiri sampai kini. Kembali dengan cerita kakek menjelang kami tidur. Kakek akan duduk di tengah ranjang besi kuno, sementara kami cucu-cucunya --mungkin ada 15 anak, duduk rapi di depan ranjang kakek. Kakekku mulai dengan berbagai cerita tentang asal muasal manusia Nabi Adam As dan Siti Hama, Nabi Ibrahim As, Nabi Sulaiman As, perjuangan Amir Hamzah, Bilal, para Khalifah dst. Kepiawaian kakek bertutur luar biasa karena dibenak kami seperti benar-benar membayangkan kejadiannya. Saat alur cerita dengan akhir bahagia, semua menarik nafas lega namun saat sad ending, beberapa kami diam-diam meneteskan air mata, tak jarang ada yang pura-pura matanya kelilipan. Paling seru, jika kakek sudah menuturkan beberapa episode namun belum ada tanda-tanda cucunya mengantuk, maka kakek akan memulai hikayatnya dengan kalimat "dahulu kala, di sebuah kampung, ada seorang pemuda, namanya, si Apuk...." saat menyebut nama itu, beberapa cucu, langsung teriak, mencari bantal dan kain sarung, sudah pasti kakek akan menuturkan petualangan horor yang dihadapi si Apuk, biasanya sebagian langsung tidur dan beberapa saja yang berani mendengarkan sampai "the end". bahkan, kadang-kadang ceritanya tidak tuntas, malah kakek menarik selimut karena terserang kantuk.
Setelah punya anak, aku memikirkan betapa luar biasanya orang-orang dulu, dalam memerikan pendidikan akhlak melalui cara bertutur namun sangat melekat dalam benak kita hingga dewasa, misalnya ketauladanan Rasulullah yang sangat menghormati kedua orangtuanya. Sementara anak-anak sekarang mungkin hanya tahu tentang syiar Islam hanya dari buku-buku pelajaran sekolah sepenggal-sepenggal. Suatu malam, terinspirasi cara kakek, aku mengumpulkan tiga putraku, dan mulai "mendongeng" tentang "hikayat" perang Badar, saat asik bertutur, tampak si bungsu sudah gelisah, dan diam-diam mendekati si sulung, sambil berbisik namun suaranya cukup jelas terdengar "cerita ayah tidak seru, kita main PS saja", tanpa permisi keduanya keluar diikuti anak nomor dua. Tinggal aku sendiri disertai suara tertawa istri depan pintu kamar, "zamannya sudah berubah, dulu tv hitam putih, tidak ada PS," ujar istri. Aku akhirnya duduk depan tv, dan putar HBO, siapa yang salah???
Ceritaku _Kenangan Milad Nabi
12 Rabiul Awal Hijriyah adalah hari bersuka-cita bagi umat Muslim karena merupakan maulid atau "milad" dalam bahasa Arab berarti hari lahir. Yakni, peringatan hari lahir junjungan Nabi Muhammad SAW. Sebagai seorang Muslim, sudah tentu 12 Rabiul Awal merupakan hari bersejarah.
Namun, bagiku pribadi ada sebuah pengalaman yang tak mungkin terlupakan seumur hidup selain milad junjungan besar Rasullulah.
Kilas balik ketiga aku kelas III SD, tepat pada 12 Rabiul Awal, maka masing-masing RT di kampungku sibuk membuat "mahligai" (sebuah miniatur masjid yang di dalamnya penuh aneka makanan). Entah berawal tahun berapa dan siapa yang pertama memulainya, maka sudah menjadi tradisi di sana, bahwa setiap maulid Nabi, masing-masing kampung atau RT berlomba-lomba membuat mahligai yang nantinya secara meriah dibawa ke Masjid Agung untuk diperlombakan. Setelah diperlombakan, maka makanan dalam mahligai itu akan disantap siapa saja yang datang ke masjid.
Pagi-pagi datang temanku satu kelas dan satu bangku Jaffar sudah berpakaian rapi dan berpeci. Ternyata dia menyemputku untuk melihat kemeriahan lomba mahligai di Masjid Agung. Akupun kemudian berpakaian rapi dan mengenakan peci.
Tepat saat kami tiba di Masjid Agung, ternyata suasana sudah sangat meriah, berbagai mahligai memenuhi ruangan Masjid, disertai suara musik rabana dan selawat Nabi.
Maklum anak-anak, kami berdua kemudian mencari posisi untuk mendekati mahligai yang isinya makanan paling terlihat nyaman karena begitu selesai diumumnya siapa juaranya, maka masyarakat diperbolehkan makan.
Rupanya peserta lomba dalam perayaan maulid Nabi tahun itu melonjak tajam sehingga membutuhkan waktu bagi juri untuk menilai dan menentukan juaranya.
Ternyata Jafar yang sengaja tidak serapan di rumah sudah kelaparan, dan diam-diam mengambil ayam panggang dari mahligai di samping kami duduk. "Loh, koq sudah dimakan. Lombakan belum selesai," ujarku heran.
"Mahligai di samping kita itu punya Oom ku, tadi udah permisi, dia bilang ambil saja ayamnya kalau lapar," ujar Jafar dengan wajah serius.
Akhirnya aku ikut makan karena yakin jika ia tidak berbohong. Tak lama kemudian, datang tim juri, diikuti Pak Mokhtar, guru berhitung --matematika-- kelas III di SD kami yang terkenal keras dan bengis itu. Ku lihat wajah Pak Mokhtar langsung merah melihat kami berdua, aku pun heran apa yang membuat guru kami itu seperti sangat marah.
Akhirnya semua mahligai sudah dinilai dan kemudian diumumkan pemenangnya, satu persatu nama juara disebutkan, dan ternyata juara tiga adalah mahligai milik kelompok Pak Mokhtar. Tak lama diumumkan, Pak Mokhtar mendatangi kami dengan wajah masih merah padam, "Senin, temui saya di sekolah !!! ," ujarnya.
Dengan nada heran aku bertanya kepada Jafar, apa kesalahan kami sehingga harus dipanggil menemui Pak Mokhtar. "Gara-garanya, kalian makan ayam dari mahligai Pak Mohktar, seharusnya dia juara satu, karena sajiannya tidak lengkap jadi juara tiga," kata salah seorang anak yang memperhatikan kami.
Tahu akan kesalahan kami, aku langsung mengajak Jafar pulang dan sepanjang jalan menyalahkannya. Apalagi, saat itu menjelang ujian kenaikan kelas, aku sangat khawatir gara-gara hal itu maka bisa menyebabkan tidak naik kelas. Tapi, Jafar tampak tenang dan menyakinkan aku bahwa ia bisa menyelesaikan masalah tersebut. "Tenang aja, nanti malam aku jemput jam 10, keluar lewat jendela aja," ujarnya.
Karena panik tidak tahu harus berbuat apa, akhirnya aku menyerahkan saja cara Jafar mengatasi hal itu, dalam hatiku mungkin malam-malam mau ke rumah Pak Mohktar untuk minta maaf.
Tepat jam 10 malam, aku keluar diam-diam melalui jendela karena Jafar sudah memberi kode jika ia sudah mengunggu aku. Pertanyaanku tidak dijawabnya, ia bilang ikut saja. Rasa heranku kian menjadi-jadi karena arah yang kami tujuan berlawanan dengan rumah Pak Mohktar. Ternyata ia membawa aku ke rumah orang pintar yang biasa dipanggil Pak Satri. Sampai disana, Jafar menuturkan masalah kami yang tidak disukai Pak Mohktar tanpa menceritakan kisah sebesarnya. Aku terheran-heran campur kagum, kadang merasa aneh melihat ulah temanku satu bangku ini karena merasa pengalaman hidupnya melebihi usia kami yang baru duduk kelas III SD.
Pak Satri yang matanya agak kurang awas itu kemudian mengambil kertas dan tertatih-tatih menulis ayat-ayat yang disebutnya "penunduk hati". Sebuah ayat bercampur antara bahasa Melayu, Arab dan Jawa karena pak Satri memang asli Jawa. Usai memberikan ayat-ayat itu, melengkapi ritual kami berdua dimandikannya tengah malam.
Tanpa membawa handuk ataupun kain sarung jelas saja, mandi kuyup tengah malam membuat aku dan Jafar masuk angin dan flu. Akhirnya kami berdua terkena flu berat dan harus menyampaikan surat izin dari orangtua karena hampir seminggu sakit sehingga tidak bisa menemui Pak Mohktar pada senin itu.
Entah karena mustajabnya doa-doa pemberian Pak Satri, atau karena tidak masuk sekolah selama satu pekan sehingga Pak Mohktar lupa amarahnya, ternyata setelah kami sehat dan kembali ke sekolah, tidak ada lagi persoalan dengan guru berhitung kelas tiga yang terkenal kejam itu. ***
Cerpen - Pertaruhan
Dua pemuda awalnya bersahabat karib, dimana ada Ali disitu ada Amad, dimana ada Amad disitu ada Ali. Keduanya ibarat sendok dan garpu, atau teh dan gula. Yang jelas, persahabatan mereka benar-benar tulus dan saling menyayangi. Sakit
Ali, berarti luka bagi Amad. Luka bagi Amad, nestapa bagi Ali.
Namun, persahabatan yang terjalin sejak mereka kecil hingga dewasa itu akhir terputus. Hanya karena Pemilu Presiden. Ternyata dari berbagai hal mereka sepaham, hanya pandangan politik yang membuat mereka berbeda.
Gara-gara politik, hubungan keduanya mulai merenggang.
Perlahan keduanya menarik diri, membatasi interaksi sosial. Ibarat ada benang imajener yang membatasi keduanya.
Puncaknya, mereka berdebat tentang pandangan politiknya yang ternyata sesuai dengan yang diusung dua calon presiden.
Ali sangat fanatik dengan calon No 1 karena sesuai dengan pandangannya, bahwa "nasionalisme" itu yang kini menjadi persoalan bangsa sehingga sangat tepat jika hal itu dijadikan sebuah perjuangan.
Sementara Amad menjagokan No 2 karena menilai bahwa Indonesia sebagai sebuah negara tidak terlepas dari globalisasi sehingga berdampak langsung bagi sektor perekonomian, politik serta berbagai bidang lainnya, meskipun berkampanye tentang perjuangan "wong cilik" namun nafas kapitalis begitu hangat terasa.
Terbawa oleh hentakan masing-masing Timses yang begitu piawai dalam memainkan hati rakyat --mengangung-agungkan masing-masing kelebihan kandidat serta menggali kelemahannya sehingga tidak jelas lagi beda antara negative campaign atau black campaign-- keduanya juga ikut-ikutan mengeluarkan kata-kata yang sangat tidak pantas sehingga menguburkan persahabatan sejati keduanya.
Karena emosi, keduanya melemparkan taruhan.
Hal yang dipertaruhkan bukan siapa calon presiden yang akan mendapat amanah rakyat untuk menjadi orang nomor satu di Indonesia.
Namun, mereka bertaruh untuk menjalankan pandangan hidupnya masing-masing seperti yang mereka perdebatkan itu di dalam dunia nyata setelah usai kuliah. Dan selama itu mereka tidak akan melakukan interaksi, dan masing-masing akan membuktikan siapa yang paling benar setelah 20 tahun akan datang.
20 tahun kemudian......
Seorang pejabat berdiri di jendela kantor megahnya. Ali kini telah menjadi seorang pejabat eselon I. Dari sisi karir, ia telah mencapai sebuah jejang tinggi di pemerintahan. Ia juga dikenal sebagai seorang pejabat yang tegas, jujur, dan disiplin. Namun, di balik kesuksesannya ada sesuatu yang terasa kosong, yakni ia merasa berada dalam sebuah kerangkeng yang bernama "birokrasi" yang tidak mampu menerapkan ide-idenya, meskipun dengan kata indah "nasionalisme" karena di atasnya beberapa tingkat, dari gubernur, kementerian, anggota legislatif bahkan presiden sendiri memiliki pemahaman dan kepentingan yang berbeda-beda tentang sosok "nasionalisme".
"Rasanya tidak pantas aku menunjukkan muka ini kepada satu-satunya sahabatku, Amad, meskipun sukses di karir tapi hakikatnya aku tidak mampu melakukan apa-apa. Ternyata aku telah keliru dengan pandanganku selama ini".
..................
Sementara itu, di ruang kerja sekaligus menjadi ruang tamu mewah di sebuah gedung lantai 20, duduk termenung seorang CEO sebuah perusahaan multi-nasional.
Dari pencapaian karir dan pendapatan, tidak ada yang meragukan Amad namun ia pun merasakan sesuatu yang kosong di bilik jiwanya.
Pandangannya mengagung-agungkan sebuah perdagangan bebas dan kapitalis ternyata terbawa dalam kehidupannya sehari-hari.
Workaholic, sifat curiga serta memandang rendah orang lain, apalagi orang miskin membuat ia terasing, tidak hanya keluarga jauh namun adik, kakak, bahkan orangtuanya sudah tidak mengakuinya sebagai keluarga.
Keluarga yang ada hanya anak dan istri namun ia merasa bahwa cinta dan kasih-sayang mereka palsu karena hanya mengincar hartanya. "Paling mereka mendoakan, agar aku cepat mati, pasti warisan saja yang mereka pikirnya". Pikiran-pikiran seperti itu yang menghantuinya.
"Jika sekedar menggenggam kesuksesan semu, rasanya tidak pantas aku menemui sahabat terbaikku, Ali, ternyata dia benar".
Ternyata pertaruhan yang mereka jadikan sebagai "doktrin" itu ternyata tidak berarti apa-apa, bahkan harus mengorbankan persahabatan sejati mereka selama 20 tahun. ****
(Kadrie Oening, suatu malam di akhir Juni 2014)
ceritaku - Arti Sebuah Kesetiaan
Aku paling suka memilih kata kunci untuk pemulihan pasword untuk email, media sosial dan sejenisnya, pada pilihan
What was the name of your first pet ? Jawabku "mugli". Benar, itu nama binatang peliharaan pertamaku, tepatnya seekor anjing. Mungkin sebelum mugli, burung dara, ada kucing, monyet dan burung enggang yang kami jadikan peliharaan karena ayahku hobi pelihara binatang. Tapi mugli adalah binatang yang benar-benar kupelihara dengan tanganku. Nama Mugli, ku ambil dari sebuah komik, "Mugli, si anak srigala". Suatu hari, saat pulang sekolah --SMP kelas dua-- seekor anak anjing lucu mengikutiku dengan mengibas-ibas ekornya. Hasan, karibku di sekolah, langsung menangkapnya dan mengajakku bergegas naik angkot, "ini anjing bagus, tidak adakah orang melihat saat aku ambil," ujarnya. "Mana aku tahu, yang penting aku tidak terlibat, jika yang punya lapor polisi," ujarku sambil menurunkan nada suara karena diberi signal oleh hasan yang khawatir, sopir angkot mendengar pembicaraan kami. setelah dekat rumahnya, hasan menyerahkan anak anjing itu kepadaku "aku titip, tidak mungkin aku pelihara nanti ami Idrus marah," katanya. "Jelas marah, mana ada Habib pelihara anjing," balasku gusar melihat kelakuan Hasan, ia yang membuat masalah tapi aku diberi tugas. Tanpa tunggu persetujuanku, ia langsung turun angkot. Akhirnya anak anjing berbulu hitam lebat itu aku bawa pulang dan diam-diam membuat kandang hasil modifikasi dari rumahan burung dara yang tak terpakai. Sepandai-pandainya melihara anak anjing pasti menggonggong jua. Ternyata ayahku santai saja. Setelah dilaporkan adikku, "biarin aja, biar dia belajar tanggung jawab merawat peliharaannya". Lain lagi ibuku, dengan berbagai dalih dan ayat ia melarang aku memelihara anjing, namun aku yang sudah jatuh cinta dengan kelucuannya tetap ngotot, akhirnya ibu mengalah dengan berbagai syarat dan syariat, "pokoknya jangan sampai dibawa ke rumah, karna jika ada bulu anjing, malaikat 40 hari tidak mau masuk rumah. Kalau habis pegang, sebelum cuci tangan pakai sabun, basuh dulu dengan tanah, setelah cuci bersih ambil air wudhu...". "Iyaaaaa..." ujarku tanpa sempat mendengar syarat lain yang sepertinya kian mustahil mampu aku lakukan. Setiap hari jika aku di rumah pasti bermain dengan mugli, yang ternyata anjing cerdas, main lempar kayu, suruh duduk dan berbaring sudah bisa ia lakukan. Saat aku kelas tiga SMP, memasuki Ramadhan. Suatu malam, anak-anak sepantaran aku saat melintasi depan rumah menuju masjid untuk tarawih, tak sengaja menginjak ekor Mugli yang berbaring di jalan. Mungkin karena kaget, ia langsung menggeram, serta mengancam dengan taringnya, salah seorang mengambil batu dan menimpuknya. Ternyata itulah awal masalah, Mugli ternyata punya ingatan kuat, sehingga anak yang menimpuknya itu tidak pernah bisa aman dan tentram jika melintasi depan rumah kami karena pasti digonggong dan dikejar. Merasa terus diteror, akhirnya orangtua dia memprotes kepada ibuku. Dua hari setelah itu, usai sekolah aku merasa ada yang janggal, setiap hati biasanya sudah terdengar gongongan mugli dari jauh saat melihat aku, dia pasti menunggu depan pagar rumah kami sambil mengibas-ngibas ekornya. Ternyata mugli telah diberikan, seorang penjual buah dari pedalaman kebetulan mencari anjing untuk menjaga kebunnya dan langsung diberikan ibuku. Protesku sudah tak berguna karena mugli sudah di bawa ke jantung hutan Borneo, nun jauh di sana. Berhari-hari aku seperti orang patah hati, kadang menangis jika tidak ada orang lain. Bayangan mugli yang mengantar dan menjemput depan pagar, saat pergi dan pulang sering terbayang. Ternyata sebuah ketulusan dan kesetiaan sangat berarti meskipun itu hanya oleh seekor anjing. Mengenangnya, nama mugli selalu aku pilih untuk pemulihan email dan media sosial.
Cerpen - bukan cari ocehan
Panas Jakarta memang luar biasa, matahari seperti di ubun-ubun, saat memikirkan nikmat es kelapa muda, ternyata ada warung jus buah di sebuah sudut Kwitang Jakarta, "orang baik, selalu diberi berkah" batinku sambil langsung mencari tempat duduk dekat kipas angin yang tergantung di tengah warung serta pesan es degan. Tak berapa lama masuk dua gadis yang dari penampilannya seperti anak kuliahan, "mending Prabowo, orangnya tegas, biar Malaysia tidak seenaknya, jangan sampe kasus hilangnya Pulau Sipadan terulang lagi," ujar gadis baju merah sambil tampak sibuk on line di gadgetnya. "Klo gua sih Jokowi aja, orangnya sederhana dan merakyat", ujar temannya yang cukup manis namun wajahnya penuh jerawatan. "Lu sih gak mikir, klo diye jadi presiden, anak-anak sekolah gak serius belajar, habis ada foto lucu di gantung depan kelas, klo Prabowo kan duren, siapa tahu ada jodoh," keduanya langsung tertawa, sayapun ikut tersenyum tak sengaja dengar obrolan mereka "Mang, pilih siapa," ujar si baju merah kepada pemilik warung saat mengantarkan minuman jus pesanan mereka, "Neng, hati-hati ngomong, kemarin karena canda seperti itu, kemarin dua pemuda berantem di depan," ujar pemilik . warung. Gara-gara candaan gadis tersebut, pemilik warung pindahkan kursinya mendekatiku, "bapak dari mana? ". "Dari Kalimantan Mang,"."klo di Jakarta, hati-hati ngomong masalah itu, bener kemarin karena omongan, dua pemuda berantem di depan. Heran, dibayar kagak, tapi bela mati". "Mungkin karena, orang-orang atas sono, bukan bersaing program tapi saling fitnah, mencari-cari kesalahan orang lain, rakyatpun ikut-ikutan bodohnya, bela sampe mati, padahal siapapun jadi presidennya, kite gini-gini aje". Entah dengar atau tidak dua gadis tersebut tampak sibuk dengan gadgetnya masing-masing. "Kite merantau ke sini cari makan bukan cari ocehan," lanjut penjaga warung meneruskan petuahnya yang tidak jelas ditujukan untuk siapa. "Sama mang, saya datang ke sini cuma cari es kelapa muda," ujarku yang ternyata terdengar lucu bagi dua gadis tersebut sehingga mereka kembali tertawa, akupun bergegas menyodorkan uang sepuluhuan ribu membayar es degan dan langsung cabut ketimbang mendengar petuah politik sang penjual jus buah...
Cerpen - adikku, si indian
Berita duka tentang meninggalnya adikku Aditya, benar-benar menjadi pukulan berat dan aku tidak ingin kehilangan momen untuk mengantarkan ke tempat peristirahatan terakhir. Tak perduli jika ada tugas terakhir beberapa hari ini maka gelar doktoral dari Monash University, Melbourne akan aku genggam. Untunglah, Pak Bas --salah seorang dosen di sana yang telah menjadi permanent residen-- berjanji membantuku jika kembali ke Ausie. Perjalanan panjang hampir enam jam, sidney-melbourne-jakarta terasa kian lama, ya itulah beda perjalanan wisata dan perjalanan karena duka. Sepanjang jalan, meskipun aku berusaha menutup mata dan telah menghabiskan tiga sloki double wiskey cola yang ku minta dari pramugari namun tak juga bisa tidur. Malah di benakku seperti sedang diputar ulang film masa kecil. Kami terlahir dari keluarga berada, aku adalah anak ke empat dari lima bersaudara, dan Aditya adalah anak bungsu. Biasanya, anak bontot adalah anak paling dimanja dan disayang namun tidak dengan Aditya, malah sepertinya, ia anak paling tidak disukai oleh ayah, ibu dan kakak-kakak kami, kecuali aku. Apalagi tetangga dan anak-anak seusia kami. Maklum saja adikku ini, terlahir cacat, kakinya timpang dan bisu. Mungkin karena usia kami beda satu tahun maka hubungan kami dekat, bahkan sering aku berkelahi karena mereka mengejek adikku. Herannya orangtua dan tiga kakak kami tidak mempersoalkan aku yang sering berantem tapi mempersalahkan Aditya. Suatu malam, aku terbangun mendengar ayah dan ibu bertengkar. Tanpa sadar ibu mengungkit jika ia sejak awal tak menghendaki kehadirannya. Saat hamil muda, ibu yang ingin kembali berakvitas dipekerjaannya makan obat perontok namun gagal sehingga hal itu yang menyebabkan ia melahirkan anak tak normal. Aku meringkuk di pinggir ranjang selain takut orangtuaku tahu aku menguping, juga baru paham jika mereka menganggap Aditya anak sial. Sejak saat itu, aku kian menyayangi dan melindunginya karena merasa orang sedunia membenci adikku.sama seperti anak-anak normal, maka aku dan Aditya juga suka bermain, permainan favorit kami adalah memerankan jagoan The Lone Ranger, aku jadi pahlawan bertopeng dan Aditya jadi Tonton, si Indian karibnya. Lamunanku perlahan pudar bersamaan suara pramugari yang mengingatkan jika pesawat segera mendarat. Di rumah duka tampak sejumlah kerabat, teman bisnis orangtuaku, dan tiga saudaraku bersama istri dan suami mereka. Aku tidak tapi perduli dengan sikap palsu mereka yang masih bersandiwara itu. Di ruang tengah terbujur kaku, saudara paling aku kasihani. Lama aku terduduk. Aku tidak menangis, karena air mataku sudah kering, menangis selama di pesawat. Selain itu, perasaan sedih berkurang saat menatap wajahnya, karena tampak tersenyum tenang dalam tidur panjangnya, tak ada lagi tatapan sendu dan ketakutan. Seperti saat melihat bunda murka jika ia dianggap berbuat salah. Perlahan aku meninggalkan jasadnya dan mengurung diri di kamar Aditya, tak sengaja aku melihat dompet tua berwarna coklat yang sepertinya aku kenal di laji meja. Ya, dompet ini hadiah dariku pada ulang tahunnya. Saat ku buka, tak ada isinya, selain sebuah foto masa kecil, aku dan Aditya yang berpakaian ala pahlawan bertopeng the lone ranger dan sahabatnya, tonto si indian. Baru aku perhatikan raut wajah Aditya dalam foto itu sama seperti wajahnya saat meninggal, mungkinkah hanya dua momen ini yang paling membahagiakannya. Selamat jalan adikku, selamat istirahat panjang sahabat indian ku, ya Allah berilah tempat yang layak di sisi-Mu, amin.
(suatu malam juni 2014, kadrie oening samarinda)
cerpen - when money talks
"Siang bang," ujar sopir Bluebird begitu aku menutup pintu mobil dan duduk di jok belakang. "Cempaka mas pak" ujarku. Mobil taksi berwarna biru teduh itupun melaju namun saat melintasi Jl Sudirman, Jakarta menampakkan wajah aslinya yang garang--kemacetan jadi ritual rutin-- memecah kebisuan aku bertanya sekenanya "nama bapak Armada ya". "Ah abang canda aja, armada..sekian..sekian mah No taksi, nama saya Anto pak" ujar sopir tersenyum sambil melihat aku melalui kaca spion tengah. "Sory pak, aku pikir nama bapak Armada..sekian.Sekian.."ujarku balas tersenyum yang awalnya tak bermaksud bercanda namun akhirnya pura-pura bercanda untuk menutup malu karena salah baca id card sopir.
Mungkin karena dianggap aku suka canda akhirnya sang sopir berkicau tentang berbagai hal, termasuk mengomentari beberapa penjual buku tentang Prabowo dan Jokowi yang menjajakannya di sekitar traffictlight kepada pengendara atau penumpang seperti diriku. "Semua dijual di Jakarta yang penting jadi duit, jual diri, jual anak," katanya. "Cuma satu yang tidak dijual pak?" ujarku dengan kalimat gantung,"Apa bang?", "Ayah dan ibu", "ha ha ha...kalau itu dijual bakalan kualat..".
"mohon maaf bang, ke jakarta bisnis atau libur". "Dua-duanya pak, libur sekalian kerja, kerja sekalian libur", terpancing dengan sikap sopir banyak bicara, akhirnya aku seperti curhat, menuturkan tentang kondisiku yang dalam pekerjaan sudah sampai titik jenuh, sebagai seorang manajer di perusahaan pengadaan alat konstruksi hampir semua daerah sudah aku singgahi, gaji dan tunjangan sangat memuaskan tapi posisi ini hampir 20 tahun aku jalani, kemampuan lobi serta keluwesanku mendekati bos besar yang juga pemilik perusahaan menyebabkan, posisiku seperti tak tergantikan saking percayanya kepada diriku.
Meski aku sering mengeluh sendiri karena banyak pekerjaan bukan di bidangku namun jadi tugasku karena perintah langsung dari the big bos. Hal lain yang kian membuatku ingin berhenti adalah prilaku bos besar, yakni sangat kasar jika ada masalah, kata-katanya melukai harga diri anak buahnya termasuk aku,"Mau wiraswasta, belum berani, mau pindah perusahaan, takut kesejahteraan tidak sama, kalau menurut bapak bagaimana?
Lama terdiam, sopir itu menilai sebaiknya, aku tetap bekerja "sudahlah bang, lupakan masalah moral, yang penting, pendapatan abang sangat memuaskan.secape capeknya orang kerja akan enak jika uang banyak, tapi seenak-enaknya orang nganggur, cuma makan tidur tapi sangat sakit jika tidak punya uang, jika tidak punya uang, kita tak ada harganya, teman jadi musuh, kerabat menjauh, saudarapun jadi orang lain".
Tak terasa, kami sudah memasuki parkir Mal Cempaka Emas, aku segera mencabut dua lembar uang seratus ribuan dan segera melangkah,"bang, kebanyakan nih, cuma rp80 rebu". Aku tersenyum dan melambaikan tangan tanda aku ikhlas memberinya lebih.
cerpen - Sahabat Nakalku
20 tahun merupakan waktu cukup lama, waktu yang bisa membuat orang menjadi matang dan bijaksana. 20 tahun juga merupakan masa cukup lama dan bermakna sebuah nostalgia mendalam jika mengenang kejadian dua dasawarsa silam.
Hal itulah yang ku alami saat bertemu secara tidak sengaja teman sekolah --sepermainan masa kecil-- saat mudik ke kampung halaman.
Hampir 20 tahun tidak bertemu, aku nyaris tidak mengenalnya, semua tampak berubah, dari penampilan dan pengakuannya, aku percaya jika kini ia menjadi pengusaha kontraktor sukses. Bahkan, ia mengaku lolos meraih kursi pada Pileg lalu.
Bergeser ke cerita masa lalu, tawanya berderai, saat mengenang kenakalan kami saat menangkap dan memanggang ayam tetangga sial yang masuk ke pekarangan rumahnya.
Setelah puas tertawa-tawa saat mengenang kebegalan kami waktu kecil, akhirnya, aku mengeluarkan"pertanyaan wajib orang Melayu" jika bertemu sahabat lama yakni tentang berapa putranya? Wajahnya langsung berubah seperti ada mendung berkabut untuk menyembunyikan kehampaan.
Akupun seperti menyalahkan diriku atas kelancangan menghentikan keceriaannya mengenang masa kecil kami. "Anakku satu-satunya meninggal is akibat kecelakaan lalu lintas, ibunya selamat meski sekarang lumpuh, menurut dokter tak mungkin bisa normal lagi, dan aku tak mungkin meninggalkannya meski mertuaku telah mengizinkan aku kawin lagi".
Usai menuturkan insiden maut itu, tiba-tiba Hp-nya berdering dan ia berpamitan dengan alasan ada janji dengan rekan bisnis. Tinggal aku sendiri duduk termenung dengan berbagai perasaan menembus bilik empatiku.
Ternyata, keutuhan keluarga adalah harta sangat tak ternilai, dan kesehatan kita sekeluarga itu sebuah rezeki yang sangat berharga namun kadang-kadang lupa kita syukuri. Hikmah lain, mungkin itulah alasan orang bule, tabu menanyakan masalah usia, agama dan keluarga, entahlah. (cerpen untuk sahabat).
Kamis, 05 Juni 2014
Menatap Masa Depan Gajah Kerdil Borneo
SAAT
melihat kawanan gajah di televisi, maka umumnya orang membayangkan habitatnya di Pulau Sumatera, Thailand, India atau negara-negara di Afrika. Padahal ada satu kawasan yang ternyata menjadi habitat kawanan gajah tersebut, yakni di utara Kalimantan.
Bagi warga utara Kalimantan, khususnya yang berusia lanjut, keberadaan populasi gajah di kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia bukan hal yang aneh.
Gajah Borneo kerdil (Elephas maximus borneensis) itu, konon, terakhir terlihat sekitar awal 1960-an, saat seorang prajurit RI (KKO Mariner) yang bertugas di perbatasan saat terjadi konfrontasi Indonesia dengan Malaysia (1963-1966) menembak mati seekor gajah yang mengamuk di sebuah perkampungan di wilayah Sebuku (Nunukan).
Namun, seiring perjalanan waktu disertai kian gencarnya aktivitas perhutanan dan perkebunan, satwa langka itu sempat dianggap punah karena tidak satupun warga di perbatasan yang melihat keberadaannya.
Kemudian, pada 1990-an, pihak Kanwil Kehutanan Kalimantan Timur mendapat laporan baik dari warga perbatasan maupun petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) setempat bahwa diperkirakan masih ada kawanan gajah di wilayah utara Kalimantan itu berdasarkan jejak kaki dan kotorannya.
Berdasarkan laporan itu, maka sejumlah peneliti dan penggiat lingkungan hidup baik dari lembaga pendidikan serta organisasi lingkungan hidup, misalnya WWF¿s (World Wide Fund for Nature) kian intensif melakukan pemantauan dan penelitian di perbatasan.
Apalagi di kawasan perbatasan itu terbentang salah satu kawasan konservasi terbesar di dunia, yakni Taman Nasional Kayan Mentarang (1.360.500 hektar).
Taman Nasional Kayan Mentarang menjadi sangat penting karena merupakan suatu kesatuan kawasan hutan primer dan hutan sekunder tua yang terbesar dan masih tersisa di Kalimantan dan seluruh Asia Tenggara.
Penampakan gajah tersebut selain menjadi berita menggembirakan khususnya terkait upaya pelestariannya namun di sisi lain juga cukup mengkhawatirkan karena intensifnya interaksi antara manusia dengan satwa-satwa langka yang mendekati pemukiman itu atau sebuah indikaso bahwa kondisi hutan yang menjadi habitatnya kian rusak.
Wilayah perbatasan dalam beberapa dakade terakhir, menjadi salah satu kawasan paling rawan terjadi berbagai kasus kejahatan, bukan hanya pada kegiatan "illegal logging", penyelundupan dan pencurian ikan namun peredaran senjata api dan Narkoba, termasuk ancaman bagi teritorial RI.
Silih berganti pemerintahan serta berbagai upaya telah dilakukan dalam menekan berbagai tindak kejahatan di kawasan perbatasan namun tampaknya berbagai program dan strategi tersebut belum mampu mengatasi berbagai kerawanan kawasan perbatasan.
Alasan klasiknya, yakni pengamanan terbentur dengan wilayah Kalimantan Timur yang terlalu luas (1,5 kali Pulau Jawa dan Pulau Madura) yang dibarengi dengan kelemahan berbagai prasarana dan sarana perhubungan dan telekomunikasi.
Akhirnya, secercah harapan menyinari kawasan perbatasan, saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 16 November 2012 telah menandatangani UU No. 20 Tahun 2012 tentang Pembentukan Provinsi Kalimantan Utara (sebelumnya masuk dalam wilayah administratif Kalimantan Timur). Sebelum disahkan Presiden, RUU pembentukan Provinsi Kalimantan Utara telah disetujui oleh Rapat Paripurna DPR pada 25 Oktober 2012 untuk disahkan menjadi Undang-Undang (UU).
Pertanyaannya, benarkan melalui sebuah otonomi daerah--lahirnya Provinsi Kalimantan Utara-- pengelolaan lingkungan hidup akan bisa lebih baik sehingga memberi asa terhadap kelestarian Gajah Borneo.
Optimistis
"Sekarang ini memang belum terasa dampaknya karena Provinsi Kaltara meskipun sudah disahkan akan tetapi belum efektif dalam menjalankan sebuah pemerintahan karena belum memiliki kepala daerah (gubernur) dan dewan yang definitif," kata pengamat perbatasan di Kalimantan Timur, Prof Sarosa Hamongpranoto, SH, M.Hum.
Kalimantan Utara yang merupakan anak bungsu Ibu Pertiwi atau provinsi ke-34 saat ini masih dipimpin oleh Pj (pejabat gubernur) yang saat ini diamanahkan kepada Irianto Lambrie, dan baru melaksanakan Pemilu kepala daerah pada awal 2015.
Sarosa menilai bahwa jika pemerintahan daerah sudah berjalan efektif serta berbagai lembaga/organisasi/instansi setingkat provinsi sudah terbentuk maka ia optimistis pengawasan dan pengamanan wilayah perbatasan di Kalimantan Utara akan berjalan baik.
Selama ini, ujarnya, hambatan mengamankan wilayah perbatasan karena terbentur luas wilayah dibarengi dengan berbagai keterbatasan prasarana dan sarana perhubungan dan komunikasi namun dengan adanya pemekaran wilayah maka persoalan itu bisa diatasi, mengingat otonomi daerah hakikatnya mendekatkan pelayanan birokrasi dan pembangunan.
Hal terpenting lainnya, ujar Sarosa adalah Pemerintah Pusat atau Pemprov Kalimantan Utara bekerja sama dengan Pemkab Malinau dan Pemkab Nunukan (dua daerah yang berbatasan darat dan laut dengan Malaysia Timur, Sabah dan Serawak) mampu membuah sebuah rencana besar dalam mengamankan potensi alamnya baik dari berbagai tindak kejahatan yang merusak lingkungan, maupun ancaman yang bisa merugikan Indonesia terkait batas wilayah/teritorial.
Pengalaman selama ini, jika terjadi persoalan di wilayah perbatasan adalah saling tuding dan lempar tanggung jawab antara perintah pusat dan daerah.
Ia juga berharap agar kelestarian sejumlah konservasi alam di kawasan perbatasan fungsinya terus dipelihara, misalnya Taman Nasional Kayan Mentarang, dan sejumlah hutan lindung di Malinau dan Nunukan, termasuk Hutan Lindung Sembakung dengan benar-benar menerapkan pembangunan berwawasan lingkungan.
Belajar dari kesalahan Provinsi Kalimantan Timur, tampaknya pemerintah daerah di Kalimantan Utara nantinya jika akan memberikan ijin lokasi maka benar-benar pada lahan-lahan kritis bukan kawasan "berhutan".
Tidak kalah pentingnya, Sarosa menilai bahwa penyelamatan lingkungan tampaknya akan bisa berhasil jika ada komitmen terus menerus dari para pemangku kebijakan dengan dikawal oleh semua pihak, termasuk media massa.
Satwa Endemik
Upaya penyelamatan lingkungan di Kalimantan Utara tampaknya kian strategis karena tuntasnya perdebatan mengenai asal usul Gajah Borneo yang ditemukan mengembara di rimba wilayah Sabah, Serawak dan Kalimantan Utara itu.
Puluhan tahun, keberadaan gajah pemalu dan berukuran kecil tersebut diperdebatkan, ada yang mengatakan bahwa satwa langka itu adalah keturunan gajah milik Sultan Sulu.
Konon, British East India Trading Company (Kongsi perdagangan Inggris di Hindia Timur) menghadiahi gajah-gajah itu kepada Sultan Sulu pada 1750. Gajah itu kemudian dilepaskan ke belantara sehingga menjadi liar.
Ada pula yang menganggap bahwa gajah itu dibawa dari Thailand oleh juragan kayu, guna menarik kayu-kayu gelondongan pada awal era industri perkayuan di Kalimantan.
Pendapat lain adalah menyakini bahwa gajah tersebut adalah endemik Kalimantan.
Berbagai spekulasi tersebut akhirnya berakhir, saat WWF¿s (World Wide Fund for Nature) Asian Rhino and Elephant Action Plan Strategy serta peneliti dari Universitas Columbia belum lama ini melalui tes DNA Mitokondria membuktikan bahwa gajah pemalu, berukuran kecil serta berbulu lebih panjang ketimbang saudaranya di Sumatera, India, Thailand dan Afrika itu ternyata satwa asli Borneo.
Bahkan, peneliti Universitas Mulawarman yang menguji DNA Gajah Borneo di balai Riset USA mendapatkan bentuk dan sifat genetik berbeda dari gajah Asia dan Afrika sehingga satwa langka ini sudah mengembara di rimba Borneo pada 30.000 tahun lalu.
Survei WWF Wilayah Kaltim 2007 memperkirakan populasi Gajah Kalimantan antara 30 sampai 80 ekor di utara Kalimantan.
Masa depan kelestarian gajah mini tersebut tampaknya kini berada di pundak Pemprov (definitif) Kalimantan Utara serta Pemkab Malinau dan Pemkab Nunukan dalam menjaga kelestarian alam, dari hutan hujan tropis dataran tinggi di Taman Nasional Kayan Mentarang sampai "tropical rainforest" dataran rendah di hutan lindung Sembakung.
Keberhasilan menyelamatkan Gajah Mini Borneo yang merupakan subspesies dari gajah Asia dan hanya dapat ditemui di Kalimantan Utara itu bukan tidak mungkin menjadi "percontohan", mengingat WWF belum lama ini menemukan jejak badak sumatera di Kutai Barat, Kaltim, padahal satwa langka itu sudah puluhan tahun dianggap punah dari Bumi Kalimantan.
melihat kawanan gajah di televisi, maka umumnya orang membayangkan habitatnya di Pulau Sumatera, Thailand, India atau negara-negara di Afrika. Padahal ada satu kawasan yang ternyata menjadi habitat kawanan gajah tersebut, yakni di utara Kalimantan.
Bagi warga utara Kalimantan, khususnya yang berusia lanjut, keberadaan populasi gajah di kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia bukan hal yang aneh.
Gajah Borneo kerdil (Elephas maximus borneensis) itu, konon, terakhir terlihat sekitar awal 1960-an, saat seorang prajurit RI (KKO Mariner) yang bertugas di perbatasan saat terjadi konfrontasi Indonesia dengan Malaysia (1963-1966) menembak mati seekor gajah yang mengamuk di sebuah perkampungan di wilayah Sebuku (Nunukan).
Namun, seiring perjalanan waktu disertai kian gencarnya aktivitas perhutanan dan perkebunan, satwa langka itu sempat dianggap punah karena tidak satupun warga di perbatasan yang melihat keberadaannya.
Kemudian, pada 1990-an, pihak Kanwil Kehutanan Kalimantan Timur mendapat laporan baik dari warga perbatasan maupun petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) setempat bahwa diperkirakan masih ada kawanan gajah di wilayah utara Kalimantan itu berdasarkan jejak kaki dan kotorannya.
Berdasarkan laporan itu, maka sejumlah peneliti dan penggiat lingkungan hidup baik dari lembaga pendidikan serta organisasi lingkungan hidup, misalnya WWF¿s (World Wide Fund for Nature) kian intensif melakukan pemantauan dan penelitian di perbatasan.
Apalagi di kawasan perbatasan itu terbentang salah satu kawasan konservasi terbesar di dunia, yakni Taman Nasional Kayan Mentarang (1.360.500 hektar).
Taman Nasional Kayan Mentarang menjadi sangat penting karena merupakan suatu kesatuan kawasan hutan primer dan hutan sekunder tua yang terbesar dan masih tersisa di Kalimantan dan seluruh Asia Tenggara.
Penampakan gajah tersebut selain menjadi berita menggembirakan khususnya terkait upaya pelestariannya namun di sisi lain juga cukup mengkhawatirkan karena intensifnya interaksi antara manusia dengan satwa-satwa langka yang mendekati pemukiman itu atau sebuah indikaso bahwa kondisi hutan yang menjadi habitatnya kian rusak.
Wilayah perbatasan dalam beberapa dakade terakhir, menjadi salah satu kawasan paling rawan terjadi berbagai kasus kejahatan, bukan hanya pada kegiatan "illegal logging", penyelundupan dan pencurian ikan namun peredaran senjata api dan Narkoba, termasuk ancaman bagi teritorial RI.
Silih berganti pemerintahan serta berbagai upaya telah dilakukan dalam menekan berbagai tindak kejahatan di kawasan perbatasan namun tampaknya berbagai program dan strategi tersebut belum mampu mengatasi berbagai kerawanan kawasan perbatasan.
Alasan klasiknya, yakni pengamanan terbentur dengan wilayah Kalimantan Timur yang terlalu luas (1,5 kali Pulau Jawa dan Pulau Madura) yang dibarengi dengan kelemahan berbagai prasarana dan sarana perhubungan dan telekomunikasi.
Akhirnya, secercah harapan menyinari kawasan perbatasan, saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 16 November 2012 telah menandatangani UU No. 20 Tahun 2012 tentang Pembentukan Provinsi Kalimantan Utara (sebelumnya masuk dalam wilayah administratif Kalimantan Timur). Sebelum disahkan Presiden, RUU pembentukan Provinsi Kalimantan Utara telah disetujui oleh Rapat Paripurna DPR pada 25 Oktober 2012 untuk disahkan menjadi Undang-Undang (UU).
Pertanyaannya, benarkan melalui sebuah otonomi daerah--lahirnya Provinsi Kalimantan Utara-- pengelolaan lingkungan hidup akan bisa lebih baik sehingga memberi asa terhadap kelestarian Gajah Borneo.
Optimistis
"Sekarang ini memang belum terasa dampaknya karena Provinsi Kaltara meskipun sudah disahkan akan tetapi belum efektif dalam menjalankan sebuah pemerintahan karena belum memiliki kepala daerah (gubernur) dan dewan yang definitif," kata pengamat perbatasan di Kalimantan Timur, Prof Sarosa Hamongpranoto, SH, M.Hum.
Kalimantan Utara yang merupakan anak bungsu Ibu Pertiwi atau provinsi ke-34 saat ini masih dipimpin oleh Pj (pejabat gubernur) yang saat ini diamanahkan kepada Irianto Lambrie, dan baru melaksanakan Pemilu kepala daerah pada awal 2015.
Sarosa menilai bahwa jika pemerintahan daerah sudah berjalan efektif serta berbagai lembaga/organisasi/instansi setingkat provinsi sudah terbentuk maka ia optimistis pengawasan dan pengamanan wilayah perbatasan di Kalimantan Utara akan berjalan baik.
Selama ini, ujarnya, hambatan mengamankan wilayah perbatasan karena terbentur luas wilayah dibarengi dengan berbagai keterbatasan prasarana dan sarana perhubungan dan komunikasi namun dengan adanya pemekaran wilayah maka persoalan itu bisa diatasi, mengingat otonomi daerah hakikatnya mendekatkan pelayanan birokrasi dan pembangunan.
Hal terpenting lainnya, ujar Sarosa adalah Pemerintah Pusat atau Pemprov Kalimantan Utara bekerja sama dengan Pemkab Malinau dan Pemkab Nunukan (dua daerah yang berbatasan darat dan laut dengan Malaysia Timur, Sabah dan Serawak) mampu membuah sebuah rencana besar dalam mengamankan potensi alamnya baik dari berbagai tindak kejahatan yang merusak lingkungan, maupun ancaman yang bisa merugikan Indonesia terkait batas wilayah/teritorial.
Pengalaman selama ini, jika terjadi persoalan di wilayah perbatasan adalah saling tuding dan lempar tanggung jawab antara perintah pusat dan daerah.
Ia juga berharap agar kelestarian sejumlah konservasi alam di kawasan perbatasan fungsinya terus dipelihara, misalnya Taman Nasional Kayan Mentarang, dan sejumlah hutan lindung di Malinau dan Nunukan, termasuk Hutan Lindung Sembakung dengan benar-benar menerapkan pembangunan berwawasan lingkungan.
Belajar dari kesalahan Provinsi Kalimantan Timur, tampaknya pemerintah daerah di Kalimantan Utara nantinya jika akan memberikan ijin lokasi maka benar-benar pada lahan-lahan kritis bukan kawasan "berhutan".
Tidak kalah pentingnya, Sarosa menilai bahwa penyelamatan lingkungan tampaknya akan bisa berhasil jika ada komitmen terus menerus dari para pemangku kebijakan dengan dikawal oleh semua pihak, termasuk media massa.
Satwa Endemik
Upaya penyelamatan lingkungan di Kalimantan Utara tampaknya kian strategis karena tuntasnya perdebatan mengenai asal usul Gajah Borneo yang ditemukan mengembara di rimba wilayah Sabah, Serawak dan Kalimantan Utara itu.
Puluhan tahun, keberadaan gajah pemalu dan berukuran kecil tersebut diperdebatkan, ada yang mengatakan bahwa satwa langka itu adalah keturunan gajah milik Sultan Sulu.
Konon, British East India Trading Company (Kongsi perdagangan Inggris di Hindia Timur) menghadiahi gajah-gajah itu kepada Sultan Sulu pada 1750. Gajah itu kemudian dilepaskan ke belantara sehingga menjadi liar.
Ada pula yang menganggap bahwa gajah itu dibawa dari Thailand oleh juragan kayu, guna menarik kayu-kayu gelondongan pada awal era industri perkayuan di Kalimantan.
Pendapat lain adalah menyakini bahwa gajah tersebut adalah endemik Kalimantan.
Berbagai spekulasi tersebut akhirnya berakhir, saat WWF¿s (World Wide Fund for Nature) Asian Rhino and Elephant Action Plan Strategy serta peneliti dari Universitas Columbia belum lama ini melalui tes DNA Mitokondria membuktikan bahwa gajah pemalu, berukuran kecil serta berbulu lebih panjang ketimbang saudaranya di Sumatera, India, Thailand dan Afrika itu ternyata satwa asli Borneo.
Bahkan, peneliti Universitas Mulawarman yang menguji DNA Gajah Borneo di balai Riset USA mendapatkan bentuk dan sifat genetik berbeda dari gajah Asia dan Afrika sehingga satwa langka ini sudah mengembara di rimba Borneo pada 30.000 tahun lalu.
Survei WWF Wilayah Kaltim 2007 memperkirakan populasi Gajah Kalimantan antara 30 sampai 80 ekor di utara Kalimantan.
Masa depan kelestarian gajah mini tersebut tampaknya kini berada di pundak Pemprov (definitif) Kalimantan Utara serta Pemkab Malinau dan Pemkab Nunukan dalam menjaga kelestarian alam, dari hutan hujan tropis dataran tinggi di Taman Nasional Kayan Mentarang sampai "tropical rainforest" dataran rendah di hutan lindung Sembakung.
Keberhasilan menyelamatkan Gajah Mini Borneo yang merupakan subspesies dari gajah Asia dan hanya dapat ditemui di Kalimantan Utara itu bukan tidak mungkin menjadi "percontohan", mengingat WWF belum lama ini menemukan jejak badak sumatera di Kutai Barat, Kaltim, padahal satwa langka itu sudah puluhan tahun dianggap punah dari Bumi Kalimantan.
Selasa, 25 Maret 2014
MASJID TIGA NEGERI


SENYUM ADALAH BAHASA UNIVERSAL
Senyum adalah bahasa universal, bahasa yang paling mudah dipahami, dan membuat hidup sehat
Sabtu, 22 Desember 2012
Kaltara, Asa Mensejajarkan Diri
AKHIR
Oktober 2012 menjadi hari bersejarah bagi NKRI karena Ibu Pertiwi melahirkan anak termudanya, yakni Kalimantan Utara, yang resmi menjadi provinsi ke-34.
DPR RI mengesahkan Provinsi Kaltara (Kalimantan Utara) pada 25 Oktober 2012 yang meliputi lima daerah, yakni Kabupaten Bulungan (Ibu Kota Provinsi Kaltara), Kota Tarakan, Kabupaten Malinau, Kabupaten Nunukan, dan Kabupaten Tana Tidung (KTT).
Berbeda dengan daerah lain (tingkat provinsi) yang masih belum disetujui untuk dimekarkan, maka Provinsi Kaltara memiliki arti strategis. Paling utama, daerah tersebut berbatasan langsung dengan Sabah dan Serawak (Malaysia bagian timur) sehingga banyak kalangan berpendapat wajar pemerintah dan DPR RI memprioritaskan Kaltara menjadi daerah otonomi baru yang terpisah dari Provinsi Kalimantan Timur.
Menengok ke belakang, maka lahir Kaltara bisa diartikan sebagai jawaban dari janji Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang sejak awal kepemimpinannya sudah berulang kali bertekad mengatasi berbagai masalah wilayah perbatasan.
Janji SBY itu, di antaranya disampaikan dalam pidato kenegaraan 15 Agustus 2008. Dalam pidato panjang itu, Presiden SBY memang hanya menyinggung wilayah perbatasan dalam dua alenia meskipun dengan nada berapi-api serta menekankan pendekatan aspek ekonomi (kesejahteraan rakyat) serta pendekatan aspek keamanan.
SBY dalam pidato itu memaparkan bahwa, "Dalam menegakkan kedaulatan negara, kebijakan pertahanan negara kita arahkan pada peningkatan profesionalisme dan kemampuan TNI. Kemampuan pertahanan negara, juga terus kita tingkatkan, antara lain dengan pemeliharaan kekuatan pokok minimum (minimum essential force), kesiapan alutsista, dan terselenggaranya latihan secara teratur. Pada bulan Juli lalu, telah dilaksanakan Latihan Gabungan TNI yang pertama sejak tahun 1996. Latihan gabungan ini, harus dilakukan secara berkala, agar Prajurit dan Satuan TNI tetap siaga, profesional, dan berkemampuan tinggi, untuk mempertahankan setiap jengkal wilayah kedaulatan NKRI".
"Khusus pembangunan wilayah perbatasan, kita lakukan melalui pendekatan beberapa aspek, terutama aspek demarkasi dan delimitasi garis batas Negara, disamping melalui pendekatan pembangunan kesejahteraan, politik, hukum, dan keamanan. Prinsipnya adalah, wilayah perbatasan kita harus dianggap sebagai beranda depan Negara
Kesatuan Republik Indonesia, dan bukannya halaman belakang negara kita," ujar SBY.
Dari sisi kebijakan, maka arah pembangunan wilayah perbatasan pada Pemerintahan Presiden SBY tampaknya sudah tepat, yakni tidak hanya pada pendekatan keamanan, namun juga pendekatan ekonomi.
Belajar dari pengalaman pada Pemerintahan Presiden HM. Soeharto, pembangunan dan perekonomian wilayah perbatasan sangat tertinggal selama 32 tahun --meskipun memiliki potensi ekonomi dari sumber daya alam serta letak yang strategis-- diduga karena Pemerintahan Orde Baru hanya menggunakan pendekatan dengan aspek keamanan.
Dalam aplikasinya, kebijakan Pemerintahan SBY itu yang tidak berjalan sesuai harapan meskipun ia mengamanahkan Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal untuk menangani langsung wilayah perbatasan.
Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal sudah memprogramkan prioritas pembangunan 27 kabupaten yang berbatasan dengan negara lain, termasuk daerah di utara Kaltim.
Kenyataannya, program itu tidak berjalan baik sehingga kondisi wilayah perbatasan tetap tidak berubah meskipun di Indonesia sudah lima kali ganti kepala negara.
"Di balik berbagai kelemahan dalam mengatasi masalah perbatasan, maka sikap pemerintahan sekarang yang sangat mendukung terbentuk Kaltara adalah cerminan 'political will' (kemauan politik) SBY untuk memenuhi komitmennya," kata Wakil Ketua DPRD Kalimantan Timur H. Ajie Sofyan Alex.
======================Arti Strategis Kaltara=====================================
Langkah Presiden SBY yang sangat mendukung terbentuknya Kaltara sejalan dengan keinginan warga utara Kalimantan Timur dalam mengatasi berbagai masalah di wilayah perbatasan.
Selama ini, kondisi pembangunan wilayah perbatasan sangat tertinggal ketimbang daerah lain di Kalimantan Timur. Pada gilirannya, wilayah yang minim dengan infrastruktur perhubungan dan komunikasi itu menjadi kawasan empuk bagi pelaku tindak kejahatan yang diperkirakan merugikan negara hingga triliunan rupiah per tahun.
Tindak kejahatan yang secara ekonomis sangat merugikan negara antara lain dari kegiatan pembalakan liar, penambangan tanpa izin, pencurian ikan, penyelundupan, peredaran narkoba dan TKI ilegal.
Selain kasus tersebut, ketertinggalan pembangunan perbatasan melahirkan dua bentuk kejahatan lain yang sangat merugikan bagi Indonesia, yakni kawasan perbatasan diduga menjadi pintu gerbang keluar masuk teroris serta ancaman kehilangan wilayah teritorial.
Khusus ancaman bagi kedaulatan negara NKRI ini, Indonesia sudah pernah mengalami pengalaman pahit saat Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan di perairan utara Kalimantan Timur hilang dari pangkuan Ibu Pertiwi akibat Pemerintah Indonesia kalah berperkara melawan Pemerintah Diraja Malaysia melalui Mahkamah Internasional
di Den Haag, Belanda pada 2002.
Setelah kasus ini, ancaman bagi kedaulatan RI masih terjadi, yakni terkait klaim sepihak Malaysia terhadap blok Migas di Perairan Ambalat atau kawasan Karang Unarang, perairan utara Kalimantan Timur.
Kasus teritorial itu, bukan hanya pada kawasan perairan namun seperti pernah dilaporkan oleh Kodam VI/Tanjungpura --kini Kodam VI Mulawarman-- bahwa patok perbatasan sempat bergeser beberapa kilometer diduga akibat aktivitas pembalakan liar oleh cukong dari negeri jiran yang menggunakan alat berat.
Pengamat perbatasan dari Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda Prof Sarosa Hamongpranoto, SH Mhum dan Wakil Ketua DPRD Kaltim H. Ajie Sofyan Alex sepakat bahwa keberadaan Provinsi Kalimantan Utara sangat strategis dalam mengatasi berbagai persoalan wilayah perbatasan di utara Kaltim.
"Berbagai kasus di kawasan perbatasan, seperti 'illegal logging', 'illegal fishing', 'illegal mining', penyelundupan dan masalah tenaga kerja ilegal marak terjadi akibat lemahnya pengawasan. Pengawasan itu lemah akibat wilayah Kalimantan Timur terlalu luas," kata Sarosa.
Kalimantan Timur yang luas wilayah 1,5 kali Pulau Jawa plus Pulau Madura memiliki garis perbatasan darat yang harus mendapat pengawasan ketat mencapai 1.038 Km dengan kondisi jalan sangat memprihatinkan.
Kondisi tersebut menyebabkan prajurit TNI tidak bisa optimal mengawasi perbatasan darat di wilayah utara Kaltim meskipun terdapat sekitar 20 pos pengawasan perbatasan.
"Tidak hanya gagal dalam pendekatan dengan aspek keamanan namun pendekatan dengan aspek ekonomi juga tidak membuahkan hasil. Pada gilirannya, berbagai aksi kejahatan di wilayah perbatasan justru melibatkan warga kita, alasan utamanya tentu terkait urusan ekonomi," kata Sarosa.
Kenyataannya memang demikian, berbagai aksi kejahatan yang merugikan negara yang diperkirakan hingga triliuan rupiah per tahun melibatkan warga Indonesia, bahkan bukan hanya warga biasa akan tetapi juga oknum aparat.
Misalnya, aksi pencurian ikan di perairan Sebatik, Kabupaten Nunukan hampir semuanya merupakan nelayan warga Indonesia akan tetapi kegiatan mereka dimodali oleh cukong dari Tawau, Sabah. Demikian juga pada kasus pembalakan liar (illegal logging) dan penyelundupan, hampir semua pelakunya WNI akan tetapi pemodalnya dari
Malaysia.
"Harapan kita, dengan terbetuknya Provinsi Kaltara maka pengawasan di wilayah perbatasan akan lebih ketat, yakni dengan terbentuknya sebuah provinsi, maka akan dibentuk pula berbagai lembaga, badan dan instansi setingkat provinsi. Misalnya, pembentukan Polisi Daerah (Polda), Komando Resort Milite (Korem), Kantor Bea Cukai dan lembaga lain yang terkait masalah pengawasan dan percepatan pembangunan kawasan itu," ujar Sarosa.
Senada dengan hal itu, Sofyan Alex, politisi dari PDI Perjuangan Kaltim menilai bahwa keberadaan Kaltara sangat strategis baik dalam mengatasi masalah keamanan maupun percepatan pembangunan serta pengembangan perekonomian kawasan perbatasan.
"Wilayah utara Kalimantan Timur yang sebagian wilayahnya berbatasan dengan Malaysia sebenarnya memiliki potensi sumber daya alam dan ekonomi sangat besar, tidak kalah dengan Kaltim namun selama ini pemanfaatannya belum optimal sehingga dengan status sekarang (Kaltara), diharapkan pengelolaannya bisa lebih maksimal," ujar
Sofyan Alex.
Hal itu, katanya, karena sesuai dengan tujuan pembentukan daerah otonomi baru, yakni memperpendek birokrasi, mendekatkan pelayanan serta mengintensifkan pembangunan.
=============================Dukungan Teknis==================================
"Posisi Provinsi Kaltara yang strategis karena berbatasan langsung dengan Malaysia harus bisa dioptimalkan. Contohnya, perdagangan antarnegara di utara Kalimantan Timur tersebut, selama ini berjalan secara tradisional. Namun, diharapkan nantinya bisa berjalan sesuai standar perdagangan global sehingga bermanfaat besar bagi devisa negara," kata Sofyan Alex.
"Agar sasaran pembentukan Provinsi Kaltara ini bisa optimal dalam mengatasi masalah perbatasan, maka sebaiknya Pemerintahan Presiden SBY tidak sebatas memberikan dukungan politik namun juga teknis," ujar Sofyan Alex.
"Dukungan politik sudah semestinya, mengingat kewenangan dalam menjaga wilayah kesatuan RI adalah tanggung jawab pusat, misalnya dukungan dana dan sumber daya (pengerahan pasukan TNI) bagi pengamanan wilayah perbatasan karena menyangkut kedaulatan kita," ujarnya.
Sementara dukungan teknis, ujar Alex, yakni Presiden SBY diharapkan mengeluarkan kebijakan untuk mempertegas arah pembangunan kawasan itu, misalnya dituangkan dalam Perpres (peraturan presiden) terkait percepatan pembangunan.
"Percepatan pembangunan kawasan perbatasan memang mendesak. Kondisi sekarang, kita seperti melihat langit dan bumi, disparitas pembangunan begitu tajam antara wilayah Indonesia di Sebatik, Nunukan dan Kutai Barat ketimbang kemajuan di Tawau, Sabah maupun Serawak," ujarnya.
Sofyan Alex optimistis berbagai tindak kejahatan akan berkurang dengan sendirinya jika optimalisasi potensi ekonomi serta percepatan pembangunan berjalan baik.
"Warga kita masih tergiur menjadi TKI karena gaji di Malaysia lebih tinggi namun orang enggan ke negeri jiran jika gaji yang ditawarkan di sini nilainya kurang lebih dengan Malaysia. Padahal, potensi perkebunan di wilayah utara Kaltim lebih luas dari Tawau atau Sabah namun belum dimanfaatkan secara optimal," ujarnya.
Begitu pula potensi perikanan dan kelautan yang justru dimanfaatkan para cukong Malaysia akibat nelayan Indonesia mengalami keterbatasan fasilitas dan permodalan. Para nelayan tersebut terpaksa menjual hasil tangkapannya ke wilayah Malaysia karena dimodali oleh cukong ikan Malaysia.
Tampaknya, masih banyak "PR" bagi Presiden SBY dalam mengatasi berbagai masalah di kawasan perbatasan, khususnya di utara Kalimantan Timur meskipun Provinsi Kaltara sudah terbentuk.
Harapan warga utara Kalimantan Timur, agar Presiden SBY memanfaatkan dua tahun sisa kepemimpinannya sebagai momentum untuk mengentaskan masalah-masalah klasik di kawasan paling ujung negeri itu, bukan sebatas rotika membangun beranda negara pada setiap pidato kenegaraan.
Sabtu, 24 November 2012
Asa Teluk Balikpapan
Keberadaan Teluk Balikpapan bagi kebanyakan orang tidaklah terlihat istimewa.
Sama seperti di daerah lain pada kawasan pesisir Kalimantan. Sepanjang mata memandang hanya terlihat hamparan hijau pohon mangrove, garis pantai berlumpur serta kehidupan benih ikan, udang dan kepiting dalam kedangkalan air payau di antara akar-akar pohon "Rhizophoraceae" sehingga seperti box bayi bagi biota laut itu.
Namun, jangan salah sangka, ekologi hutan mangrove di pesisir Kalimantan Timur itu bisa menghadirkan "cerita misteri" namun juga bisa membuka tirainya untuk pertunjukan "drama kehidupan liar satwa langka yang eksotis dan mencenangkan".
Cerita misteri maupun pertunjukan drama itu seperti kian meningkatkan "kasta" Teluk Balikpapan dalam sektor ekologis, khususnya kekayaan "bio diversity" (keanekaragaman hayati) luar biasa di kawasan pesisir Kalimantan Timur bagian selatan tersebut.
Contohnya, misteri kehidupan Duyung (Dugong Dugon) di Teluk Balikpapan, yakni pada 1996 telah diusulkan bahwa "si Putri Duyung" telah punah di Bumi Kalimantan.
Tapi, empat tahun kemudian atau 2000, Yayasan RASI (Rare Aquatic Species Indonesia) menemukan denyut kehidupan liar mamalia itu di Teluk Balikpapan.
Populasi Duyung memang tidak hanya di Teluk Balikpapan namun pada beberapa daerah di perairan Indonesia kondisinya nyaris sama sehingga satwa ini dianggap mamalia langka perairan yang benar-benar terancam punah.
Pada belahan dunia di lain kawasan, Duyung terdapat pula di Madagaskar, Afrika Timur, India dan Australia.
Data pasti populasi satwa ini di perairan Indonesia belum ada meskipun beberapa ilmuwan memperkirakan hanya tinggal 1.000 sampai 10.000 ekor.
Para ilmuwan hanya sepakat bahwa populasinya memang kian menurun drastis dalam beberapa tahun terakhir. Di Indonesia hanya terdapat di Teluk Balikpapan, Kotawaringin, Pulau Karimata, Teluk Kumai dan Kepulauan Derawan.
Banyak orang salah mengartikan jika Duyung adalah ikan, mengingat satwa itu tidak bernafas dengan insang namun paru-paru serta berkembang-biak dengan menyusui anaknya.
Meskipun sama-sama satwa mamalia namun Duyung tidak sama dengan jenis lumba-lumba. Anatomi duyung lebih mirip dengan gajah. Perbedaan lain, jika lumba-lumba makan ikan sedangkan Duyung termasuk jenis herbivora.
Dulunya, Si Putri Duyung itu diburu oleh para nelayan karena ada anggapan bahwa mamalia ini jika ditangkap akan mengeluarkan air mata. Para nelayan akan mengambil dan menyimpan ke dalam botol kecil air mata si putri karena dipercaya bisa menjadi bahan untuk minyak pelet.
Tulang-tulang mamalia ini juga diambil untuk campuran obat-obatan tradisional yang belum pernah dibuktikan secara medis dan ilmu pengetahuan.
Kini, kondisi Si Putri Duyung di Teluk Balikpapan ternyata setiap hari kian terancam. Ancaman utama terkait
ulah manusia yang merusak habitatnya di Teluk Balikpapan. Kerusakan padang lamun kini menjadi ancaman serius mamalia langka itu karena merupakan pakan utama duyung.
Lamun menghilang akibat berbagai aktivitas manusia sehingga terjadi sedimentasi dan polusi kimia.
Teluk Balikpapan memiliki luas daerah aliran sungai (DAS) 211.456 hektar dan perairan seluas 16.000 hektar.
Ancaman Teluk Balikpapan
"Misteri" lain yang tersembunyi di balik selimut hijau mangrove Teluk Balikpapan yang baru-baru ini terungkap, yakni tentang arti strategis hutan dataran rendah itu adalah sebagai Rumah (habitat) dari 1.400 ekor Bekantan atau monyet hidung panjang.
Ternyata dengan populasi itu, maka Bekatan di Teluk Balikpapan menjadi sangat penting karena menjadi lokasi terbanyak di dunia monyet hidung panjang yang masih bertahan di habitatnya, atau mewakili lima persen primata berbulu kuning itu di seluruh dunia.
Kerusakan lingkungan pada hutan mangrove yang menjadi habitatnya berarti mengancam langsung kelestarian Bekantan di seluruh dunia.
Misteri berikutnya yang selama ini seperti menjadi "harta karun" (potensi keanekaragaman hayati) yang tersimpan dalam perairan Teluk Balikpapan adalah ditemukan kawasan Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris). Awalnya, para peneliti memperkirakan satwa mamalia air itu adalah lumba-lumba namun setelah diteliti lebih mendalam ternyata Pesut.
Pasalnya, selain Pesut selama ini dianggap hanya ada di Sungai Mahakam, juga ekosistem Teluk Balikpapan adalah air payau (asin) bukan air tawar seperti habitat Pesut yang selama ini diketahui masyarakat.
Para ilmuwan memperkirakan bahwa populasi Pesut di Teluk Balikpapan sekitar 60-140 ekor. Muara Tempadung merupakan habitat yang sangat penting bagi pesut, sebagai daerah pencarian ikan dan migrasi.
Teluk Balikpapan masih banyak hutan primer, hutan mangrove, padang lamun, dan terumbu karang. Habitat satwa liar juga banyak, seperti bekantan sekitar 1.400 ekor, pesut laut 60-140 ekor, 300 jenis burung, 100 mamalia, lebih dari 1.000 pohon.
Kawasan ini juga menjadi habitat beruang madu, macan dahan, duyung, buaya muara dan penyu hijau.
Mangrove di kawasan ini ada sekitar 40 jenis, separuh dari yang ada di Asia, dengan ketinggian pohon ada
mencapai lebih dari 20 meter. Ada beberapa kawasan pesisir kawasan itu yang masih terjaga seperti di Sungai Wain yang menjadi habitat Orangutan (Pongo pygmaues).
Ancaman utama bagi kelestarian Teluk Balikpapan justru timbul oleh kegiatan pembangunan sektor lain,
khususnya sektor industri, perkebunan, pertambangan dan infrastruktur jalan dan jembatan.
Bidang industri misalnya, maka pembabatan hutan terjadi karena daerah itu dijadikan Kawasan Industri
Kariangau (KIK) sesuai usulan Kapet Sasamba (Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu, Samarinda-Sangasanga-Muara Jawa-Balikpapan) --selaku konsultan Pemprov Kaltim-- maka mencapai 2.189 hektar meliputi Teluk Kariangau sampai Teluk Waru (Penajam Paser Utara).
Malah, Dinas Pekerjaan Umum Kaltim membuat usulan baru agar KIK diperluas menjadi 5.130 hektar dari arah Hulu sampai Pulau Balang. Celakanya, usulan ini kemudian diakomodir dalam usulan revisi rencana tata ruang wilayah (RTRW) Kota Balikpapan 2011-2031.
Kian padat aktifitas baik di darat maupun di perairan Teluk Balikpapan, antara lain kehadiran kapal nelayan
yang terus bertambah, pembangunan pelabuhan perusahaan batu bara serta pengeboran Migas membuat berbagai satwa langka di kawasan itu makin terdesak.
Pengeboran minyak misalnya, menjadi ancaman sangat serius bagi kelestarian Pesut laut di Teluk Balikpapan karena merusak sistem dalam mencari makanan (ikan) atau echolocation (sonar).
Tidak jauh berbeda dengan Pesut, Si Putri Duyung juga terancam akibat kepadatan lalu lintas kapal di Teluk
Balikpapan yang terus meningkat.
Ditambah dengan banyak kasus pencemaran seperti pembuangan oli, pengecatan serta pembersihan kapal ketika berada di pelabuhan. Kondisi itu menjadi sumber polutan yang membunuh rumput laut dan bisa dapat menyebabkan keracunan pada duyung.
Bagi pemerintah daerah, menghadapi posisi dilematis menghadapi persoalan itu, yakni benturan antara program pembangunan Jembatan Pulau Balang dan jalan penghubungnya karena telah menelan ratusan miliar rupiah dengan dampak lingkungan yang ditimbulkan.
Jika berbagai infrastruktur telah terbangun dan dimanfaatkan, baik kawasan industri, jalan dan jembatan maka di depan mata sudah jelas terjadi perambahan besar-besaran.
Kondisi itu pada gilirannya akan menimbulkan deforestasi dan degradasi ekosistem sehingga merusak integritas ekologi seluruh Teluk Balikpapan.
Secercah Harapan
Salah satu penggiat lingkungan yang selama ini meneliti berbagai kehidupan liar berbagai satwa langka di Teluk Balikpapan, yakni Stanislav Lhota termasuk orang yang masih optimistis bahwa kelestarian kawasan itu masih bisa diselamatkan.
Lhota yang juga seorang peneliti dari Departemen Zoologi, Universitas South Bohemia Republik Chechnya mengaku sudah menyampaikan berbagai hal, termasuk pemikiran dan solusi untuk menjaga kelestarian Teluk Balikpapan kepada pemerintah daerah setempat (Pemkot Balikpapan, Pemkab PPU dan Pemprov Kaltim) namun belum mendapat respon positif.
Tetapi, Hal itu tidak melemahkan semangatnya untuk menyelamatkan keanekaragaman hayati Teluk Balikpapan.
Bahkan, akhirnya kampanye internasional melalui berbagai media dalam upaya penyelamatan keanekaragaman hayati Teluk Balikpapan, Kaltim kini berdampak positif.
Tanggapan itu, misalnya beberapa perusahaan yang selama ini dituding mengabaikan sektor lingkungan kini mulai menghentikan kegiatan yang dianggap keliru itu.
Ia menambahkan bahwa itu berita penting terkait kampanye untuk menyelamatkan Teluk Balikpapan dari ancaman ekspansi industri, tampaknya bahwa komunitas internasional kebangkitan pada akhirnya.
"Kegiatan perusahaan di sana telah mulai menghancurkan hutan mangrove dan meracunkan air laut di sepanjang pantai Teluk Balikpapan," ujar dia.
Ada dua perusahaan yang ia sebutkan, yakni PT. Mekar Bumi Andalas (anak perusahaan Wilmar Group) dan PT. Dermaga Kencana Indonesia (anak perusahaan dari Kencana Agri Ltd Group) yang sedang melakukan kegiatan di kawasan itu.
"Ada kemungkinan besar bahwa perusahaan-perusahaan besar akan peduli dengan hilangnya reputasi yang baik dan memburuknya hubungan masyarakat. Memang, Wilmar sudah menanggapi kampanye dan menganggap serius menghentikan setiap pengembangan lebih lanjut di Teluk Balikpapan," ujar Lhota.
Lhota menilai bahwa memang butuh dukungan semua pihak baik warga sekitar, swasta, dewan dan pemerintah daerah dalam penyelamatan lingkungan Teluk Balikpapan.
Setidaknya, sementara ini, melalui kampanye internasional itu terlihat secercah harapan bagi kelestarian berbagai satwa langka yang selama ini menjadikan Teluk Balikpapan sebagai rumahnya, termasuk si Putri Duyung, mamalia langka yang paling terancam punah di perairan Indonesia.
Senin, 05 November 2012
Hendarji: PON berarti strategis Bentuk Kakarter Bangsa
Samarinda - Mantan Wakil Ketua I (Bidang Pembinaan Prestasi Olahraga) KONI Pusat Hendardji Soepandji menilai bahwa apapun alasannya maka tidak ada dalih pembenaran yang tepat untuk menghapus Pekan Olah Raga Nasional (PON).
"Tidak ada 'event' skala nasional yang begitu banyak melibatkan orang, juga bisa mempertemukan dan mempersatukan berbagai suku, berbagai bahasa bahasa daerah, berbagai golongan, berbagai agama seperti PON," kata kata mantan salah satu kandidat gubernur DKI Jakarta 2012-2017 itu di Samarinda, akhir pekan ini.
Hal itu diungkapkannya Ketua Umum Organisasi induk karate se-Indonesia (Forki) tersebut menanggapi pernyataan Wakil Ketua Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Utut Adianto di Gedung Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, belum lama ini yang meminta agar pemerintah mempertimbangkan untuk menghapus PON.
Alasan Utut, penyelenggaraan PON selama ini dianggap selalu memberatkan APBD yang menjadi tuan rumah.
persoalan paling krusial, imbuh Utut adalah setelah PON gedungnya tidak bisa dipelihara oleh daerah mana pun.
Utut menambahkan bahwa kini tidak ada negara selain Indonesia yang menggelar event seperti PON. Negara yang terakhir menggelar "event" seperti PON adalah Uni Soviet pada 1984.
"Semua orang yang hadir dalam acara PON, baik atlet, pelatih, ofesial dan penggembira tidak ada yang mempersoalkan suku, golongan dan agama, semuanya menggunakan bahasa satu, yakni upaya bangsa Indonesia menunjukan sportifitasnya dan bersaing secara jujur dan bermartabat," ujar Mayjen TNI Purnawiran Hendardji yang pernah menjadi Komandan Pusat Polisi Militer (Danpuspom) 2006 juga Asisten Pengamanan Kepala Staf Angkatan Darat pada 2008.
"Hanya olaraga yang bersih dari persaingan yang tidak sehat karena sekali berbuat curang maka akan mendapat hukuman, dan yang terberat adalah sanksi sosial sehingga peran PON sangat strategis dalam membentuk karakter bangsa Indonesia," ujar lulusan Akademi Angkatan Bersenjata RI 1974 itu.
"Apalagi, dari sejarahnya PON dibentuk untuk pemersatu bangsa Indonesia sehingga jika ingin menjadi bangsa besar, maka jangan sekali-sekali melupakan sejarah, " imbuh Mayjen TNI Purnawirawan itu mengutip kalimat Sang Praklamator Bung Karno.
"Memang benar, seperti kita lihat selama 18 kali penyelenggaraannya, yakni terakhir PON 2012 di Riau belum lama ini banyak kelemahan di sana-sini namun seharusnya masalah itu yang diperbaiki agar kualitasnya terus meningkat, bukan meniadakan PON,¿ katanya menegaskan.
Kunci Sukses Kaltim
Menyinggung kunci sukses prestasi Kaltim dalam dua PON terakhir, ia menilai bahwa kunci utama sukses Kalimantan Timur pada dua kali Pekan Olahraga Nasional (PON) karena spirit juang luar biasa.
"Spirit juang luar biasa ini yang saya lihat sebagai salah satu kunci sukses Kaltim pada dua PON terakhir ini," katanya.
Selain itu dana pembinaan yang besar, ditambah program yang bagus akan kurang berarti jika tampa didukung oleh mental juang baik saat berlatih pada tahap bersiapan maupun saat tanding.
Kaltim di PON XVIII-2008 Kaltim pada posisi tiga besar, dan PON XVIII-2012 Riau peringkat lima.
Kaltim juga berhasil membina beberapa cabang olahraga yang didominasi oleh atlet lokal dengan prestasi sangat luar biasa, misalnya gulat yang cuma ditargetkan 10 emas namun dari 21 yang diperebutkan, 14 emas diraih atlet Kaltim. Bahkan, sepak bola berhasil mengukir sejarah karena selama ini tidak pernah masuk final ternyata meraih satu emas.
"Salah satu upaya Kaltim dalam mendorong spirit atletnya, yakni dengan memberikan bonus besar," imbuhnya.
Kaltim termasuk daerah terbesar memberikan bonus, yakni pada PON 2008 mencapai Rp150 juta dan PON 2012 sebesar Rp250 juta per medali emas.
Kaltim termasuk daerah terbesar memberikan bonus, yakni pada PON 2008 mencapai Rp150 juta dan PON 2012 sebesar Rp250 juta per medali emas.
Kamis, 27 September 2012
PON 2012: Antara Prestasi, Prestise dan Frustasi
Pekanbaru - Pekan Olahraga Nasional XVIII di Riau telah ditutup secara resmi oleh Wapres Boediono, Kamis malam (20/9), namun agaknya masih menyisakan sejumlah persoalan serius bagi bangsa ini.
Persoalan krusial tersebut, antara lain terkait dengan tindak pidana korupsi yang diduga melibatkan sejumlah pejabat dan anggota dewan di daerah dan pusat, termasuk di dalamnya Ketua Panitia PON yang juga Gubernur Riau, Rusli Zainal.
Entah informasi dari mana, namun di kalangan masyarakat Riau sudah menyebar khabar bahwa satu bulan atau dua bulan usai PON, maka sejumlah pejabat dimaksud akan dijadikan tersangka oleh KPK.
Pernyataan seperti itu kadang-kadang dikemukakan oleh para sopir, Satpam ataupun pegewai pemerintah di Riau, tanpa ditanya jika menyinggung tentang PON.
Masalah krusial lain terkait munculnya "gugatan untuk menghapus PON". Gugatan ini lahir akibat besarnya dana untuk pelaksanaan pesta olahraga 'multievent' itu.
Terjadinya berbagai penyimpangan (korupsi, kolusi dan nefotisme/KKN) dianggap karena pelaksaan PON membutuhkan dana tidak sedikit. Sementara sistem pengawasan masih lemah, serta belum didukung oleh suprastruktur (peraturan teknis) yang efektif dalam mencegah penyimpangan itu.
Dana begitu besar untuk pelaksaan PON bisa dilihat dari dua kali Pekan Olahraga Nasional itu dalam tahun-tahun terakhir ini.
Misalnya, PON XVII-2008 Kaltim, dana yang dikeluarkan sekitar Rp4,6 triliun, sedangkan PON XVIII-2012 Riau adalah Rp2,2 triliun.
Dana mencapai Rp4,6 triliun (PON 2008 Kaltim) itu misalnya, melebihi APBD yang dimiliki belasan provinsi di Indonesia, sebut saja APBD Nusa Tenggara Timur 2012 hanya Rp2,2 triliun atau setara dengan biaya PON XVIII-2012 Riau.
Artinya, biaya untuk melaksanakan PON 2012 di Riau, setara dengan biaya untuk membangun berbagai fasilitas serta roda pemerintahan di NTT selama satu tahun.
Tidak heran, Wakil Ketua Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Utut Adianto di Gedung Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, belum lama ini meminta agar pemerintah mempertimbangkan untuk menghapus PON.
Alasannya, penyelenggaraan PON selama ini dianggap selalu memberatkan APBD yang menjadi tuan rumah.
"Yang paling krusial, setelah PON gedungnya tidak bisa dipelihara oleh daerah mana pun," kata Utut Adianto sambil menuturkan bahwa kini tidak ada negara selain Indonesia yang menggelar 'event' seperti PON. Negara yang terakhir menggelar 'event' seperti PON adalah Uni Soviet pada 1984.
Pernyataan "Frustrasi"
Pernyataan "frustrasi" Utut terhadap masa depan PON sebenarnya tidak perlu diutarakan, jika Indonesia tidak terkotak-kotak oleh kepentingan para pejabat itu sendiri yang sering melemparkan tanggung jawab karena ada istilah "pemerintah pusat" dan "pemerintah daerah".
Sudah jelas PON merupakan agenda nasional yang seharusnya jadi tanggung jawab bersama (baik pemerintah pusat maupun daerah).
Kenyataannya, daerah yang menyatakan siap jadi tuan rumah akan menanggung sendiri semua pembiayaannya, kalaupun ada dukungan pusat maka tidak proporsional, misalnya perlu peraturan yang mengatur komposisi 60 persen biaya daerah (APBD) dan 40 persen tanggungan pusat (APBN).
Yang terjadi, hampir 100 biaya persiapan (termasuk membangun venues) ditanggung daerah, pusat hanya menangani urusan paling ringan, yakni terkait urusan teknis operasional pada pelaksaan PON.
Bagi daerah "kaya" seperti Kaltim dan Riau, maka kepercayaan menjadikan daerah itu sebagai tuan rumah tidak semata-mata untuk mengejar prestasi, namun juga prestise.
Lihat saja pada PON 2008. Kaltim dengan "sombong" membebaskan berbagai biaya bagi para tamu PON, mulai dari transportasi di daerah (dalam kota) dan akomodasi, termasuk bebas biaya tiket masuk pembukaan maupun penutupan PON.
"Biar rugi asal terpuji, biar tekor asal kesohor". Motto mantan Ketua DPRD Kaltim Herlan Agussalim yang berduet dengan H. Suwarna (mantan gubernur Kaltim) yang menjadi pemegang kunci sukses PON 2008 itu dapat melukiskan semangat prestise Kalimantan Timur kala itu.
Tokoh olahraga Kalimantan Timur Bahrid Buseng tidak sependapat dengan Utut Adianto karena menilai keberadaan PON harus terus dipertahankan karena sangat strategis bagi upaya memajukan dunia olahraga di tanah air ketimbang 'single event', seperti kejuaraan nasional.
"Sudah jelas PON merupakan jenjang kita menuju 'event' lebih tinggi, misalnya SEA Games, Asian Games dan Olimpiade. Persiapan, pelaksaan serta arti strategis PON tentu tidak bisa disamakan dengan 'single event'," ujar Bahrid yang juga politisi dari Golkar Kaltim itu.
"Saya pikir, pernyataan seperti itu hanya sikap frustrasi, harusnya sistem pelaksaan PON yang harus ditinjau ulang, khususnya pola pendanaannya, namun bukan menghapus kegiatan 'multievent' ini," ujar anggota DPRD Kaltim itu.
Sesuai dengan semangat awal PON, maka 'event' ini tidak sekedar mengejar prestasi, namun juga bertujuan mempererat persatuan dan kesatuan bangsa.
"Ingat, kita jangan sampai melupakan sejarah serta tujuan luhur dari PON itu sendiri," ujar tokoh olahraga Kaltim yang lain, yakni H. Ajie Sofyan Alex yang sependapat bahwa PON masih dibutuhkan.
Multiefek PON
Hal lain yang sering terlupakan dari pelaksaan PON, khususnya bagi daerah pelaksana atau tuan rumah adalah multiefek berbagai bidang, khususnya bagi kemajuan daerah serta dampak sosial dan ekonomi.
"Misalnya, PON XVII-2008 Kaltim memang mahal, tapi pernahkan kita terpikir dari multiefek kegiatan ini. Kita cenderung berhitung secara matematis nilai dana yang dikeluarkan untuk pembangunan venues namun kita sering lupa multiefek dari bidang pembangunan, sosial dan ekonomi kegiatan ini," kata Bahrid
Ia mencontohkan bahwa banyak orang menilai pembangunan Stadion Utama Palaran --senilai 90 juta dolar AS atau sekitar Rp800 miliar yang setara dengan stadion-stadion kelas menengah di klub-klub Liga Eropa-- sebagai langkah sia-sia karena usai PON cenderung menjadi "monumen".
"Stadion Utama mungkin bisa saja jadi monumen jika tidak dikelola dengan benar namun keberadaan bangunan ini telah memberikan nilai luar biasa terhadap perkembangan ekonomi rakyat sekitarnya karena terbukanya akses bagi lahan yang dulu terlantar, harga tanah di sekitar ini melonjak tajam, serta perekonomian rakyat berjalan baik dengan mulusnya jalan di sekitar stadion. Padahal tadinya daerah ini hanya merupakan lahan-lahan kritis yang terlantar," ujar dia.
Kondisi serupa terjadi pada lima daerah lain di Kaltim yang ditunjuk menjadi kota penyelenggara PON XVII-2012 Kaltim.
"Penetapan sejumlah daerah menjadi kota penyelenggara PON ternyata berdampak sangat positif bagi kemajun pembangunan kota dan perekonomian rakyat setempat. Nilai rupiah untuk pelaksaan PON ternyata tidak sebanding dengan dampak positif atau multiefek dari penetapan suatu daerah sebagai tuan rumah PON," ujar Sofyan Alex.
Tampaknya, PON masih sangat dibutuhkan bangsa Indonesia, khususnya dalam upaya pemerataan pembangunan tidak hanya tersentralisasi di Jakarta atau Pulau Jawa, mengingat pada masa lalu, PON hanya digilir di Jakarta dan wilayah-wilayah di Pulau Jawa.
Dari pandangan ini jelas bahwa arti strategis PON bukan sekedar mengejar prestasi di bidang olahraga, namun juga prestasi di bidang pemerataan pembangunan.
Kunci sukses 'multievent' ini sebenarnya sederhana, yakni pusat juga harus bertanggung jawab penuh dalam persiapan dan pelaksaan PON. Bukan menyerahkan semua tanggung jawab pendanaan bagi daerah (APBD) mengingat lebel 'even't ini memang "nasional", bukan POD (Pekan Olahraga Daerah). (Datiz)
Siapa Layak Jadi Juara Sejati PON 2012
Pekanbaru - Samarinda Kalimantan Timur akhirnya menduduki posisi lima besar pada PON XVIII-2012 di Riau yang resmi ditutup oleh Wapres Boediono di Pekanbaru, Kamis (20/9), yakni mampu meraih 136 medali (43 emas, 45 perak dan 48 perunggu) sesuai data resmi PB PON.
Posisi 10 besar pada pesta akbar olahraga "multi-event" di tanah air itu, yakni DKI Jakarta (105 – 101 – 109 : 315), Jawa Barat (100 – 78 – 101 : 279), Jawa Timur (85 – 82 – 85 : 252), Jawa Tengah (47 – 52 – 67 : 166), Kalimatan Timur (43 – 45 – 48 : 136), Riau (42 – 39 – 51 : 132), Sulawesi Selatan (19 – 17 – 20 : 56) Sumatera Utara (15 – 19 – 21 : 55), Bali (15 – 16 – 29 : 60) dan Lampung (15 – 9 – 10 :
34).
Posisi lima besar bagi Kaltim bisa dikatakan sebagai pencapaian yang prestisius seperti diungkapkan oleh Ketua Umum KONI Kaltim Harbiansyah Hanafiah,"Hasil ini sangat membanggakan, tentu berkat kerja keras semua pihak yang terlibat, termasuk berkat doa rakyat Kaltim".
Posisi lima besar, tentu hal yang luar biasa bagi Kaltim karena harus bersaing ketat dengan salah satu provinsi di Pulau Jawa, yakni Jawa Tengah, bahkan dua hari menjelang berakhir event tersebut terjadi saling kejar posisi sehingga Kaltim dalam klasemen sementara sempat menduduki posisi empat besar sebelum kembali dislip oleh Jateng.
Seperti menjadi "tradisi" bahwa posisi puncak" (elit lima besar) hanya akan diduduki oleh tiga provinsi di Pulau Jawa, yakni Jawa Timur, Jawa Barat dan Jawa Tengah ditambah oleh DKI dan tuan rumah.
"Keberhasilan kita menduduki posisi lima besar bukan saja berkejaran klasemen dengan Jawa Tengah namun sukses melampaui tuan rumah Riau," ujarnya.
Hal lain yang dianggap Harbiansyah yang juga merupakan "bos" (pemilik) Persisam Putra Samarinda itu sebagai pencapaian luar biasa adalah sukses cabang olahraga sepak bola yang masuk babak final serta menyumbangkan medali emas karena mampu melumpuhkan tim tangguh Sumatera Utara (1-0).
"Keberhasilan tim sepakbola Kaltim ini benar-benar sangat monumental serta fenomenal karena sejak muda saya mengelola tim Kaltim tidak pernah meraih prestasi seperti ini, bahkan, saat menjadi tuan rumah PON XVII-2008 Kaltim, kita masuk semi final," ujar Harbiansyah dengan mata berkaca-kaca.
Target Tiga Besar
Jika berpatok kepada target yang ditetapkan oleh Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak, maka artinya dengan posisi lima besar itu maka Kaltim gagal mencapai prestasinya.
Tetapi, perlu juga melihat "sejarah" (latar belakang) sehingga Gubernur Awang memasang target sangat tinggi itu, yakni berkaca kepada keberhasilan Kaltim mencatat sejarah dengan prestasi monumental dan fenomenal (tidak satupun daerah selain provinsi Pulau Jawa plus DKI Jakarta yang mampu meraihnya), yakni tiga besar pada PON XVII-2008 Kalimantan Timur.
Bagi para insan olahraga (baik pengamat, pelatih maupun atlet) menilai bahwa target tiga besar sangat tidak masuk akal. Ada beberapa catatan yang membuat target tersebut dianggap tidak rasional, yakni alasan utamanya adalah terkait dengan posisi sebagai kontingen tamu di PON XVIII-2012 Riau.
Tidak bisa dipungkiri bahwa salah satu kunci sukses Kalimantan Timur di PON XVII-2008 karena posisi sebagai tuan rumah sehingga tidak mengikuti babak prakualifikasi (Pra) PON.
Kaltim benar-benar memanfaatkan keuntungan sebagai tuan rumah dengan menerjunkan sekitar 1000 atletnya pada PON 2008. Berbeda dengan di PON 2012 Riau, Kaltim hanya mengirimkan sekitar 470 atlet.
Bahkan, sebagian kalangan justru pasimistis terhadap prestasi Kaltim di PON Riau, yakni dengan melihat perjalanan beberapa daerah yang begitu perkasa saat menjadi tuan rumah namun prestasinya hancur saat menjadi tim tamu.
Sebut saja, perjalanan Sumatera Selatan yang masuk elit lima besar saat jadi tuan rumah PON XVI-2004 (30 emas, 41 perak dan 40 perunggu) namun terlempar jauh di posisi 14 pada PON XVII-2008 Kaltim (12 emas, 11 perak dan 17 perunggu).
Kaltim yang pada PON XVi-2004 Sumatera Selatan hanya puas menduduki posisi sembilan dengan peraihan medali 19 emas, 28 perak dan 33, saat menjadi tuan rumah meloncat sangat tinggi karena masuk elit tiga besar setelah Jawa Timur dan DKI Jakarta dengan prestasi 116 emas, 111 perak dan 115 perunggu.
Kekhawatiran bahwa Kaltim akan sama seperti Sumatera Selatan sempat kiat terasa pada beberapa hari mulai
bergulirnya PON XVIII-2012 di Riau.
Bahkan, mental sejumlah pelatih dan atlet serta anggota kontingen Kaltim sempat jatuh pada PON XVIII-2012 Riau karena selama empat hari pekan olahraga berlangsung, tidak satu atlet Kaltim yang mencatat namanya di papan angka sebagai peraih emas.
Juara Sejati
Ada pernyataan cukup menggelitik, usai PB (Panitia Besar) PON XVIII-2012 mengumumkan secara resmi posisi
peraih medali terbanyak, yakni siapa sebenarnya "juara sejati" PON yang ke-18 itu.
"Kaltim is the real champion" begitu salah satu pesan pada jejaring sosial saat tim sepakbola Kaltim mampu
melumat tim tangguh Sumatera Utara 1-0 pada partai final untuk cabang olahraga paling merakyat itu di Stadion
Kaharuddin Nasution Rumbai, Riau, satu hari menjelang penutupan PON atau 19 September 2012.
Ucapan selamat baik melalui SMS maupun jejaring sosial meskipun dengan kalimat berbeda namun kebanyakan
bermakna sama, yakni "Kaltim adalah juara sejati PON 2012".
DKI Jakarta memang menduduki peringkat pertama karena peraih medali terbanyak, demikian pula Jawa Barat
sudah menunjukkan prestasi karena hanya peringkat empat di PON 2008 mampu menduduki "runner up".
Namun, prerstasi DKI Jakarta dan Jawa Barat ini dianggap oleh sejumlah pengamat olahraga tidaklah luar
biasa. Daerah ini memiliki potensi atlet baik secara kuantitas maupun kualitas.
Selain itu, didukung oleh pendanaan yang bukan saja dianggap proporsional namun sangat besar, bayangkan DKI Jakarta mengalokasikan dana Rp500 miliar dan Jawa Barat Rp250 miliar untuk persiapan (pemusatan latihan daerah) sampai pergelaran PON.
Dana sebesar itu, menyebabkan DKI Jakarta dan Jawa Barat bisa menjalankan salah satu tahap persiapan yang
strategis bagi atletnya, yakni menggelar pemusatan latihan daerah (Puslatda) dengan waktu pelaksanaan yang panjang (10 sampai 12 bulan) serta mengirimkan atletnya ke luar negeri untuk "try out" (latih tanding).
Kaltim sebaliknya saat menghadapi PON 2012 dengan persiapan sangat terbatas. Usulan KONI Kaltim adalah
sekitar Rp200 miliar namun disetujui (ditetapkan dalam anggaran) Rp80 miliar.
Hal itu menyebabkan Puslatda yang semula diprogramkan selama sembilan bulan dipangkas menjadi enam bulan. Sejumlah program "try out" ke luar negeri juga ditinjau ulang, sehingga ada cabang yang semula merancang selama persiapan akan latih tanding tiga kali, menjadi satu kali atau tidak berangkat semasekali.
Kekhawatiran lain, beberapa cabang olahraga yang menjadi andalan Kaltim juga ditiadakan pada PON Riau, yakni pada PON 2008 Kaltim tercatat 43 cabang olahraga sedangkan di "Provinsi Lancang Kuning" itu hanya 39 cabang olahraga.
Dari empat cabang yang tidak dipertandingkan itu, yakni hoki, dansa, berkuda dan drum band, pada PON XVII-2008 Kaltim meraih 12 emas.
Ditiadakan sejumlah cabang olahraga itu ternyata mampu ditutup oleh sukses beberapa cabang olahraga lain, sebut saja gulat, target hanya 10 emas mampu menyabet 14 emas dari 21 medali yang dipertandingkan, cabang olahraga senam yang tidak diperhitungkan ternyata menyumbang tiga emas.
Prestasi paling monumental yang dianggap sebagai "gong" menjadikan "Kaltim sebagai juara sejati" tentu prestasi tim sepakbola yang meraih satu emas, apalagi melihat perjalanan kesebelasan Kaltim yang sempat terseok-seok oleh berbagai kepentingan di tubuh PSSI.
Misalnya, Kaltim maju ke PON XVIII-2012 setelah menang WO atas Kalsel yang tidak datang pada laga "playoff". Pada PON 2012, di babak penyisihan, pertandingan Kaltim melawan Jawa Tengah molor sampai tiga jam sehingga harus digelar sampai tengah malam karena Rintangan intervensi PSSI pihak Djohar Arifin Husin yang menilai Kaltim tidak berhak tampil. (Datiz)
Berkaca dari perjalanan Kalimantan Timur itu sehingga menggapai posisi elit lima besar, maka tampaknya gelar "the real champion" untuk PON kali ini tidaklah berlebihan.
Jumat, 13 April 2012
Langganan:
Postingan (Atom)



.jpg)







